IATA Ajukan Revisi RKAB Batubara demi Kejar Optimalisasi Produksi Tahun 2026

Selasa, 11 Agustus 2026 | 02:24:01 WIB
PT Karya Pacific Energy Tbk. (IATA). (Foto: NET)

JAKARTA - Emiten batu bara PT Karya Pacific Energy Tbk. (IATA) mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengoptimalkan produksi sepanjang 2026. Perusahaan kini masih menunggu hasil evaluasi pemerintah atas pengajuan tersebut.

Presiden Direktur IATA Suryo Eko Hadianto mengatakan perseroan tetap menjalankan kegiatan operasional sesuai dengan rencana kerja yang telah ditetapkan sembari menunggu keputusan Kementerian ESDM. 

“Perseroan berkomitmen untuk terus mengoptimalkan produksi batu bara di tahun 2026. Saat ini, Perseroan masih menunggu hasil evaluasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) atas pengajuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disampaikan sebelumnya,” ujar Suryo dalam keterangan resmi, Selasa (11/8/2026).

Pengajuan revisi RKAB tersebut menjadi salah satu katalis yang perlu dicermati terhadap prospek produksi IATA pada semester II/2026. Namun, korporasi belum mengungkapkan besaran tambahan kuota produksi yang diajukan maupun waktu keputusan revisi RKAB tersebut. 

Saat ini, IATA mengelola tiga Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang telah aktif beroperasi, yakni PT Putra Muba Coal (PMC), PT Arthaco Prima Energy (APE), dan PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE). 

Ketiga IUP tersebut mempunyai total sumber daya batu bara sebesar 598,23 juta metrik ton (MT) serta cadangan sebesar 287,83 juta MT. 

Berdasarkan catatan internal, PMC mempunyai sumber daya senilai 66,71 juta MT dan cadangan 44,63 juta MT. Sementara itu, APE memiliki sumber daya 441,93 juta MT dengan cadangan 222,07 juta MT. Adapun IBPE memegang sumber daya 89,59 juta MT serta cadangan 21,13 juta MT.

Suryo menyampaikan dukungan ekosistem terintegrasi Karya Pacific Group sebagai pengendali baru juga menjadi bagian dari strategi perseroan guna meningkatkan kapabilitas operasional dan kapasitas produksi. 

“Dengan dukungan ekosistem terintegrasi Karya Pacific Group sebagai pengendali baru, Perseroan memiliki posisi yang semakin kuat untuk meningkatkan kapabilitas operasional dan kapasitas produksi melalui sinergi di bidang pertambangan, logistik, dan infrastruktur pendukung,” katanya.

IATA menyebut dukungan tersebut mencakup fasilitas strategis seperti pelabuhan muat batu bara atau jetty, jembatan timbang, serta jalan angkut. 

Badan usaha itu juga memperoleh dukungan kontraktor penambangan untuk aktivitas pembukaan lahan, pengupasan lapisan penutup dan lumpur, pengambilan tanah atas, penambangan serta pengangkutan batu bara, hingga pengelolaan tempat penumpukan.

Dari aspek korporasi, IATA menegaskan melakukan perubahan nama dari sebelumnya PT MNC Energy Investments Tbk. menjadi PT Karya Pacific Energy Tbk. Aksi korporasi tersebut telah mendapat restu pemegang saham lewat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 22 Juni 2026. 

Perusahaan kemudian resmi memperkenalkan logo baru pada 10 Agustus 2026. Transformasi identitas itu, menurut korporasi, tidak berdampak pada aktivitas operasional maupun komitmen kepada pelanggan, mitra bisnis, investor, kreditur, dan pemangku kepentingan. 

Seluruh hak serta kewajiban perseroan tetap berjalan sesuai regulasi yang berlaku.

Terkini