Prabowo Janji Pangkas Bunga Cicilan dan Hapus DP Pembelian Motor Listrik Nasional

Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:56:32 WIB
Presiden RI Prabowo Subianto. (Foto: NET)

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto berjanji menurunkan suku bunga cicilan serta mengupayakan pembelian kendaraan roda dua bertenaga listrik tanpa uang muka atau down payment (DP).

“Kami akan turunkan bunga, bunga cicilan kami turunkan untuk rakyat. Kemudian kami usahakan tidak pakai DP,” kata Prabowo sewaktu meluncurkan Motor Listrik Nasional (Molinas) beserta ekosistem penunjangnya di Cikarang, Kamis (13/8/2026).

Menurut Prabowo, skema pembiayaan bertarif bunga lebih rendah serta tanpa DP tersebut diharapkan mampu menjadikan kendaraan roda dua bertenaga baterai tersebut jauh lebih terjangkau bagi publik.

Langkah itu sekaligus menjadi bagian dari program pemerintah demi mempercepat adopsi kendaraan listrik di dalam negeri seraya menekan tingkat ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi asing.

Prabowo menyatakan, pemanfaatan kendaraan roda dua bertenaga baterai menyuguhkan pengeluaran yang jauh lebih ekonomis apabila disetarakan dengan motor bermesin konvensional berbahan bakar minyak (BBM).

Berdasarkan kalkulasi yang dipaparkannya, besaran biaya operasional kendaraan tersebut sanggup ditekan setidak-tidaknya separuh atau 50%.

“Penghematannya minimal 50% pengeluaran kalian untuk sehari-hari bergerak itu minimal 50%, bahkan bisa sampai 70% di ujungnya,” ujar Prabowo.

Ia memandang efisiensi biaya tersebut berpotensi menjadi salah satu daya tarik utama bagi publik guna berpindah ke moda transportasi ramah lingkungan. Apalagi, kabinet saat ini pun sedang giat menggenjot pembangunan ekosistem kendaraan listrik skala nasional.

Dari ranah pembiayaan, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengemukakan bahwa pihak lembaga tersebut telah melakukan koordinasi intensif bersama sektor perbankan serta institusi finansial di bawah naungan Danantara demi menyalurkan sokongan terhadap pembelian motor listrik.

Rosan menyebutkan bahwa jajaran perbankan di bawah Danantara telah menyatakan kesiapan penuh dalam menyuplai fasilitas pembiayaan berikat suku bunga lebih terjangkau serta tenor cicilan yang lebih panjang.

“Kami siap mendukung dari perbankan kami untuk memberikan pendanaan dengan suku bunga lebih rendah, jangka waktu lebih panjang,” ucap Rosan dalam agenda serupa.

Rosan turut membeberkan bahwa persentase besaran DP pembelian kendaraan saat ini berdasarkan data dari sektor perbankan berada di kisaran angka 10%.

Danantara bertekad untuk berupaya mereduksi besaran uang muka tersebut, bahkan menargetkan penghapusan secara total.

“DP-nya yang selama ini masih ada, kalau menurut informasi dari perbankan kami itu ada 10%, kami akan coba reduce bahkan akan kami coba hilangkan,” ujar Rosan.

Berdasarkan pandangan Rosan, sokongan pembiayaan tersebut amat mendesak guna mengatrol akselerasi lonjakan permintaan kendaraan roda dua bertenaga baterai di tanah air.

Melalui peningkatan antusiasme masyarakat, tingkat kapasitas produksi motor listrik nasional pun diproyeksikan mampu terus digenjak naik.

Rosan mencatat bahwa saat ini terdapat kurang lebih 140 juta unit sepeda motor berpendorong bahan bakar fosil yang masih aktif dikendarai oleh masyarakat Indonesia.

Di sisi lain, angka transaksi penjualan sepeda motor di Indonesia setiap tahunnya menyentuh kisaran 6 juta sampai dengan 7 juta unit.

Kendati demikian, mayoritas volume transaksi penjualan itu masih didominasi oleh unit kendaraan konvensional.

"Setiap tahunnya pembeliannya adalah 6 sampai 7 juta motor. Tetapi yang membeli motor listrik kurang lebih hanya 60 sampai 70 ribu, jadi hanya 1%,” jelas Rosan.

Realitas tersebut mengindikasikan bahwa tingkat penetrasi motor listrik pada segmen pasar kendaraan roda dua domestik masih tergolong amat minim.

Menurut Rosan, situasi ini secara simultan memperlihatkan adanya celah ruang ekspansi pertumbuhan yang masih terbuka secara sangat luas.

“Jadi kalau kami lihat, ini potensi ke depannya, upside-nya ini bisa secara eksponensial,” kata Rosan.

Bahkan, Danantara menaksir potensi besaran ukuran pasar atau market size industri kendaraan roda dua bertenaga baterai di Indonesia sanggup menembus angka sekitar US$170 miliar.

Terkini