Tips Menghentikan Kebiasaan Minta Maaf Berlebihan dengan Mudah

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:08:32 WIB
Ilustrasi - Kebiasaan Sering Minta Maaf Tanpa Alasan. (Foto: NET)

JAKARTA - Mengucapkan "maaf" tatkala melakukan kesalahan merupakan bentuk tanggung jawab serta sikap menghargai orang lain. 

Namun, bagaimana jika kata tersebut terlalu sering diucapkan, bahkan ketika sebenarnya tidak melakukan kesalahan? Sebagian orang terbiasa meminta maaf untuk hal-hal kecil, seperti ketika terlambat beberapa menit, meminta bantuan, menyampaikan pendapat, atau bahkan ketika merasa telah merepotkan orang lain. 

Kebiasaan tersebut dikenal sebagai over-apologizing. Dikutip dari Psychology Today, psikolog Mark Travers menjelaskan kebiasaan terlalu sering meminta maaf tidak selalu menunjukkan kesopanan atau kematangan emosional. 

Dalam sejumlah situasi, kebiasaan ini justru dapat berkaitan dengan keraguan terhadap diri sendiri dan kekhawatiran dianggap merepotkan. Alih-alih terus meminta maaf secara refleks, seseorang dapat belajar mengganti respons tersebut dengan kalimat yang lebih tepat. Berikut tiga cara yang dapat dicoba.

Cara berhenti terlalu sering minta maaf

Ganti "maaf" dengan "terima kasih"

Salah satu cara sederhana untuk mengurangi kebiasaan terlalu sering meminta maaf adalah mengganti kata "maaf" dengan ungkapan terima kasih ketika situasinya memungkinkan. 

Misalnya, daripada mengatakan, "Maaf sudah membuatmu menunggu," seseorang dapat mengatakan, "Terima kasih sudah menunggu." Contoh lainnya, "Maaf sudah merepotkan" dapat diubah menjadi "Terima kasih sudah membantu saya." Keduanya memiliki makna yang berbeda. 

Permintaan maaf menempatkan perhatian pada kesalahan atau beban yang dirasakan seseorang, sedangkan ucapan terima kasih menyoroti bantuan dan kebaikan yang diberikan orang lain. Travers mengutip penelitian yang diterbitkan dalam PsyCh Journal pada 2023. 

Penelitian tersebut menemukan bahwa mengungkapkan rasa terima kasih dibandingkan meminta maaf dapat membuat seseorang merasa lebih dekat dengan lawan bicaranya karena menunjukkan kehangatan dalam hubungan.

Berhenti sejenak sebelum mengatakan "maaf"

Ketika kata "maaf" sudah menjadi kebiasaan, seseorang mungkin mengucapkannya secara otomatis tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan situasinya. Karena itu, cobalah berhenti sejenak sebelum meminta maaf. 

Tanyakan kepada diri sendiri, "Apakah saya benar-benar melakukan kesalahan?" Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu membedakan antara kesalahan yang memang perlu dipertanggungjawabkan dan situasi yang sebenarnya hanya membuat diri sendiri merasa tidak nyaman. 

Sebagai contoh, seseorang mungkin langsung meminta maaf ketika lawan bicaranya menjawab dengan singkat atau terlihat kurang bersemangat. 

Padahal, belum tentu perubahan suasana hati tersebut disebabkan oleh dirinya. Menurut Travers, orang yang terbiasa meminta maaf dapat menganggap respons biasa dari orang lain sebagai tanda bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang salah. 

Pola tersebut juga berkaitan dengan self-silencing, yakni kecenderungan menekan kebutuhan atau pendapat sendiri demi menjaga hubungan.

Sampaikan permintaan secara langsung

Kebiasaan meminta maaf juga sering muncul ketika seseorang sebenarnya sedang meminta sesuatu. 

Misalnya, "Maaf mengganggu, boleh minta bantuan?" Jika tidak ada kesalahan yang dilakukan, kalimat tersebut sebenarnya dapat disampaikan secara lebih langsung menjadi, "Boleh minta bantuan?" Begitu pula ketika ingin menyampaikan kebutuhan kepada orang lain. 

Daripada mengatakan, "Maaf merepotkan, apakah kamu bisa mengantarkan saya?", seseorang dapat langsung mengatakan, "Apakah kamu bisa mengantarkan saya?" Cara tersebut bukan berarti seseorang harus berbicara dengan kasar atau mengabaikan perasaan orang lain. 

Justru, menyampaikan maksud dengan jelas dapat membuat komunikasi menjadi lebih sederhana. 

Travers merujuk pada penelitian dalam Journal of Experimental Social Psychology yang menunjukkan bahwa bahasa yang terlalu banyak menggunakan pembatas atau kata-kata yang membuat pernyataan terdengar kurang tegas dapat memengaruhi bagaimana pesan tersebut dinilai.

Terkini