Menhut Ajak Lakukan Transformasi Konservasi Alam Nasional

Jumat, 21 Agustus 2026 | 22:33:01 WIB
Menteri Kehutanan (Menhut) [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menggalakkan transformasi pengelolaan konservasi alam nasional yang berkesinambungan demi merawat kelestarian ekosistem hayati serta memberikan nilai tambah bagi warga di sekitar kawasan.

“Keberhasilan konservasi harus dapat terlihat dari indikator nyata, mulai dari peningkatan populasi satwa, kondisi ekosistem, efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, hingga manfaat yang kembali dirasakan masyarakat,” kata Menhut dalam keterangannya di Jakarta, Jumat. (21/8/2026).

Di samping itu, Menhut menggarisbawahi bahwa hambatan dalam bidang konservasi kian pelik, utamanya dipicu oleh faktor perubahan iklim, penurunan mutu lingkungan, menyusutnya keanekaragaman hayati, serta kebutuhan anggaran yang semakin tinggi untuk melindungi ekosistem.

“Krisis iklim dan degradasi lingkungan menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi bersama agar kekayaan alam Indonesia dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Menhut Raja Antoni turut mengemukakan urgensi perumusan mekanisme pendanaan konservasi yang kreatif dan modern.

Menurutnya, usaha memelihara wilayah konservasi tidak boleh sekadar bersandar pada pola-pola konvensional semata, melainkan menuntut adanya terobosan lewat kemitraan pembiayaan, termasuk optimalisasi bursa karbon serta aliran investasi hijau.

Menhut juga memberikan catatan khusus terkait keberhasilan pelestarian satwa liar yang memperlihatkan progres menggembirakan.

Program proteksi terhadap spesies-spesies prioritas semacam badak jawa, harimau sumatera, orangutan, serta gajah asia terus memperlihatkan tren positif yang ditandai dengan lahirnya individu-individu baru di berbagai wilayah sebarannya.

Berkenaan dengan penanganan gesekan antara manusia dan satwa liar, ia turut menekankan perlunya implementasi strategi yang lebih solutif serta partisipatif.

Menhut menyampaikan bahwa momentum peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 yang jatuh pada bulan ini harus dimanfaatkan untuk memperkokoh gotong royong antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas adat, pelaku usaha, akademisi, organisasi nonpemerintah, serta seluruh elemen masyarakat.

Sinergi lintas sektor tersebut, imbuhnya, sangat esensial dalam menjaga warisan kekayaan alam Nusantara sekaligus menyukseskan target penurunan emisi gas rumah kaca nasional melalui agenda Indonesia's FOLU Net Sink 2030.

Terkini