Pembiayaan UMKM Bank Sampoerna Tembus Rp6,2 T hingga Juni 2026

Rabu, 26 Agustus 2026 | 03:40:32 WIB
PT Bank Sahabat Sampoerna. (Foto: NET)

JAKARTA - PT Bank Sahabat Sampoerna konsisten mempertahankan fokus pembiayaan pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sampai akhir Juni 2026, pembiayaan UMKM bank tersebut menyentuh angka sekitar Rp6,2 triliun, yang mencakup hampir 60% dari total kredit keseluruhan perseroan.

Dari total nilai tersebut, sekitar Rp5,5 triliun dialirkan secara langsung kepada para pelaku UMKM. Sementara itu, penyaluran secara tidak langsung melalui jaringan mitra—seperti perusahaan pembiayaan, fintech, koperasi, serta modal ventura—berhasil mencapai Rp628,8 miliar. 

Secara keseluruhan, total akumulasi penyaluran pembiayaan Bank Sampoerna hingga penghujung Juni 2026 menyentuh angka Rp10,6 triliun, yang mayoritas bersumber dari segmen bisnis wholesale.

Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna, Henky Suryaputra, mengemukakan bahwa perlambatan pada laju pertumbuhan kredit UMKM terjadi seiring dinamika perekonomian serta daya beli masyarakat yang masih berproses menuju pemulihan total.

"Meskipun menghadapi tantangan dari dinamika ekonomi dan daya beli masyarakat yang masih berproses menuju pemulihan penuh, sehingga penyaluran kredit UMKM kami mengalami perlambatan, komitmen Bank Sampoerna terhadap segmen kerakyatan tetap solid," ujar Henky, Senin (24/8).

Menurut Henky, hingga kuartal II-2026, porsi kredit UMKM tetap mendominasi dan mencapai hampir 60% dari portofolio kredit perseroan secara keseluruhan. Di sisi lain, kinerja pertumbuhan pada segmen alternatif seperti institusi keuangan dan wholesale masih memperlihatkan hasil yang cukup baik.

Bank Sampoerna memandang prospek penyaluran kredit sepanjang 2026 masih berada di jalur positif. Meskipun demikian, perseroan memproyeksikan bahwa laju pertumbuhan kredit UMKM belum akan setinggi segmen lainnya.

Henky menambahkan bahwa segmen wholesale berpotensi melaju lebih kencang seiring dengan berbagai program pemerintah yang menggerakkan distribusi pangan secara masif.

"Segmen UMKM mungkin belum dapat tumbuh tinggi, tetapi segmen lain seperti kredit wholesale dapat tumbuh lebih tinggi, sejalan dengan program pemerintah yang mengedepankan distribusi makanan secara masif," katanya.

Kendati demikian, manajemen tetap optimis menatap prospek penyaluran kredit tahun ini dengan catatan berbagai insentif fiskal, moneter, serta stimulus dari pemerintah dan regulator mampu merumuskan ekosistem bisnis yang kondusif.

Dalam upaya menggenjot penyaluran kredit, Bank Sampoerna turut mengantisipasi sejumlah tantangan, mulai dari fluktuasi makroekonomi global dan domestik yang memengaruhi daya beli, pengelolaan likuiditas ketat untuk menjaga tingkat suku bunga kompetitif, hingga penguatan mitigasi risiko demi mengamankan kualitas aset.

Guna mengatasi berbagai tantangan tersebut, pihak bank mengandalkan sejumlah strategi utama. Strategi ini mencakup pemanfaatan teknologi untuk efisiensi asesmen dan pengajuan kredit, perluasan kolaborasi dengan institusi keuangan serta ekosistem rantai pasok, hingga pemberian nilai tambah berupa edukasi bisnis bagi nasabah UMKM.

"Untuk memperkuat penyaluran kredit secara optimal dan berkualitas, Bank Sampoerna memastikan pertumbuhan kredit tetap diiringi oleh kualitas aset yang sehat melalui pemantauan portofolio secara berkala," pungkas Henky.

Terkini