BI Akui Insentif Likuiditas Tak Otomatis Turunkan Bunga Kredit Bank

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 00:46:00 WIB

LIPUTANFINANSIAL.COM — Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Alexander Lubis, mengungkapkan bahwa tujuan utama KLM adalah memastikan perbankan tidak mengalami kekeringan likuiditas. Dengan kata lain, bank diharapkan tetap memiliki ruang untuk menyalurkan kredit di tengah suku bunga acuan yang masih bertahan di level 5,75 persen.

"Yang mau kita pastikan adalah tidak ada permasalahan supply atau permasalahan likuiditas. Jangan sampai bank itu tidak bisa menyalurkan kredit gara-gara secara sistem banknya sudah kering duluan," ujar Alexander dalam diskusi dengan media di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Bunga Kredit Masih Stuck di 8,81 Persen

Data BI per Juni 2026 menunjukkan rata-rata suku bunga kredit perbankan masih berada di angka 8,81 persen. Angka ini terbilang stagnan jika dibandingkan dengan rata-rata suku bunga deposito tenor satu bulan yang hanya sebesar 4,76 persen.

Alexander menjelaskan, BI tidak bisa mematok secara langsung berapa basis poin penurunan bunga kredit yang berasal dari KLM. Alasannya, dana yang masuk ke bank dari berbagai sumber, termasuk insentif likuiditas, akan tercampur dalam satu neraca keuangan.

"Kalau kita memastikan bahwa KLM dikasih Rp1 triliun sama BI, kreditnya Rp1 triliun, tidak bisa begitu juga. Sulit juga karena Rp1 triliun itu blended," jelasnya.

Risiko Debitur Jadi Penentu Utama

Bank pada dasarnya selalu memiliki insentif untuk menyalurkan kredit. Namun, keputusan akhir tetap bergantung pada kemampuan calon debitur dalam membayar cicilan. Ketika bank menilai risiko debitur cukup tinggi, penyaluran kredit pun menjadi lebih selektif.

"Kalau bank itu, pada dasarnya bukan menolak kreditnya. Pasti memberikan kredit, tapi Anda mampu bayarnya, bulannya berapa," kata Alexander.

Selain profil risiko, komponen lain seperti biaya operasional (overhead cost) dan margin keuntungan yang diharapkan bank juga ikut menentukan besar kecilnya suku bunga dasar kredit (SBDK).

Digitalisasi Bisa Tekan Biaya Operasional

Alexander menilai, efisiensi biaya operasional menjadi kunci agar bank memiliki ruang menurunkan bunga. Digitalisasi proses perbankan disebut dapat membantu menekan beban tersebut.

"Overhead cost yang tadinya banyak dilakukan secara manual bisa dilakukan ini sehingga harapannya marginnya itu oke," ujarnya.

Ke depan, BI terus mendorong kebijakan dari sisi permintaan dan penawaran. Selain memastikan likuiditas cukup, bank sentral juga berupaya mempertemukan perbankan dengan korporasi, UMKM, dan sektor ekonomi lain yang membutuhkan pembiayaan. Dengan kombinasi ini, transmisi kebijakan moneter ke sektor riil diharapkan berjalan lebih optimal.

Terkini