MRT Timur-Barat Mulai Dibangun Akhir 2026 Berkat Peningkatan Hibah

Rabu, 02 September 2026 | 04:42:31 WIB
Konstruksi fisik MRT Koridor Timur-Barat Cikarang—Balaraja Fase I Tahap I dijadwalkan mulai dikerjakan pada akhir 2026. (Foto: NET)

JAKARTA — Konstruksi fisik MRT Koridor Timur-Barat Cikarang—Balaraja Fase I Tahap I dijadwalkan mulai dikerjakan pada akhir 2026. 

Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta (Perseroda) Rendy Primartantyo mengemukakan, kegiatan pembangunan sepanjang 2026 masih memusatkan perhatian pada aspek persiapan dan pengadaan sebelum masuk ke tahap pembangunan fisik.

"Sesuai target yang telah ditetapkan, pembangunan fisik sepanjang kurang lebih 1,8 kilometer direncanakan mulai pada akhir tahun 2026," ujarnya, dikutip pada Rabu (2/9/2026).

Saat ini, pihak MRT Jakarta memastikan kesiapan teknis, prosedur pengadaan, serta tata kelola proyek berjalan selaras dengan anggaran dan jadwal yang telah disepakati bersama Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta.

Pembangunan Koridor Timur-Barat bakal diteruskan pada 2027 seiring dengan bertambahnya alokasi Hibah MRT. Penambahan alokasi itu menjadi komponen dari komitmen Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta guna mempercepat pembangunan jaringan MRT.

Berdasarkan Buku II Nota Keuangan dan RAPBN 2027, pagu Hibah MRT pada 2027 diproyeksikan mencapai Rp2,86 triliun. Jumlah tersebut mengalami kenaikan 9,8% jika dibandingkan dengan alokasi pada 2026 yang senilai Rp2,6 triliun.

Peningkatan alokasi tersebut dipicu oleh rencana pelaksanaan lanjutan pembangunan MRT Koridor Timur-Barat Fase I Tahap I oleh Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta.

Berkenaan dengan hal tersebut, Rendy menyebutkan bahwa kenaikan alokasi hibah pada 2027 akan menyokong keberlanjutan pembangunan MRT Koridor Timur-Barat.

"Kenaikan alokasi tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta untuk mengakselerasi pembangunan jaringan MRT, yang juga mencakup kelanjutan pembangunan MRT Koridor Utara–Selatan Fase II A," ungkapnya.

Hibah MRT berasal dari pinjaman Japan International Cooperation Agency alias JICA yang implementasinya dimulai sejak 2009 dan diproyeksikan berlangsung sampai 2034. 

Provinsi Daerah Khusus Jakarta bertindak sebagai penerima hibah, sementara Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan bertugas sebagai executing agency.

Dukungan pendanaan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menghadirkan alternatif moda angkutan perkotaan yang ramah lingkungan, terpadu, dan berstandar global.

Pada 2026, sasaran output Hibah MRT mencakup kelanjutan pembangunan jalur MRT Koridor Utara-Selatan Fase II A sepanjang kurang lebih 5,8 kilometer serta pembangunan jalur MRT Koridor Timur-Barat Fase 1 Tahap 1 sepanjang kurang lebih 1,8 kilometer.

Di sisi lain, Fase 1 Tahap 1 tersebut pada dasarnya mencakup lintasan sepanjang 24,5 kilometer dari Tomang hingga Medan Satria, serta jalur penghubung menuju depo di Rorotan sepanjang 5,9 kilometer.

Trase ini akan terdiri dari 21 stasiun, yang memadukan jalur layang dan bawah tanah. Jalur bawah tanah akan membentang dari Roxy sampai Galur, sementara bagian layang akan didirikan dari Tomang–Grogol dan Cempaka Baru–Ujung Menteng.

Sementara itu, saat ini masih berjalan pembangunan MRT Jakarta Fase 2A lintas Utara Selatan Bundaran HI—Kota dengan target pengoperasian Stasiun Thamrin—Monas pada 2027 dan Kota pada 2029 mendatang.

Terkini

HBA September 2026: Batubara Kalori Tinggi Tembus US$ 126

Rabu, 02 September 2026 | 05:22:01 WIB

HMA September 2026: Nikel Turun, Emas dan Tembaga Naik

Rabu, 02 September 2026 | 05:17:02 WIB

ESDM Pastikan PLTP Ungaran Dikembangkan Bertahap

Rabu, 02 September 2026 | 05:10:33 WIB

Kontrak Proyek IKN Tahap 3 Rp17,24 Triliun Terancam Mandek

Rabu, 02 September 2026 | 05:06:02 WIB