Prabowo Targetkan Perdagangan RI-Rusia Naik Dua Kali Lipat di EEF

Kamis, 03 September 2026 | 18:53:32 WIB
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan usulan agar Indonesia bersama Rusia menargetkan penggandaan nilai perdagangan dalam kurun waktu awal berlakunya perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). (Foto: NET)

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menyampaikan usulan agar Indonesia bersama Rusia menargetkan penggandaan nilai perdagangan dalam kurun waktu awal berlakunya perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). 

Usulan tersebut diutarakan ketika dirinya berpidato sebagai Tamu Kehormatan Utama pada gelaran Forum Ekonomi Timur (EEF) ke-11 yang bertempat di Universitas Federal Timur Jauh (FEFU), Vladivostok, pada Kamis (3/9/2026).

Pada awal pidatonya, Prabowo menyampaikan salam multiagama serta menyapa Presiden Rusia Vladimir Putin beserta para pemimpin negara yang hadir. 

Prabowo turut menyoroti eratnya hubungan kedua negara, di mana kunjungan ke Vladivostok ini merupakan lawatan keduanya ke Rusia sepanjang 2026 sekaligus pertemuan kelima dengan Putin sejak dirinya mengemban jabatan sebagai Presiden Indonesia.

"Namun, ini sudah kunjungan kedua saya ke Rusia tahun ini. Tetapi sebenarnya, ini adalah pertemuan kelima saya dengan Presiden Putin sejak saya menjadi Presiden Indonesia. Saya menantikan kesempatan untuk membalas keramahan yang diberikan Rusia kepada saya dan menyambut Presiden Putin serta banyak dari Anda di Indonesia," ungkap Prabowo.

Lebih lanjut, Prabowo menjelaskan bahwa perekonomian kedua negara saling melengkapi satu sama lain. 

Rusia memiliki keunggulan pada komoditas gandum, pupuk, energi, sains, hingga rekayasa maju, sementara Indonesia kaya akan minyak sawit, perikanan, kopi, karet, tekstil, mebel, barang konsumsi, di samping dukungan tenaga kerja muda serta akses terhadap 680 juta penduduk Asean.

"Kekuatan satu pihak dapat menjawab kebutuhan pihak lain. Ini adalah fondasi perdagangan yang adil dan berkelanjutan," kata Prabowo.

Ia memaparkan bahwa wujud kerja sama tersebut sudah mulai nampak. Sepanjang tahun 2025, angka perdagangan bilateral antara Indonesia dan Rusia mendekati kisaran US$5 miliar, yang mencatatkan kenaikan sebesar 21,7% dari tahun 2024 serta melonjak 33,7% jika dibandingkan tahun 2023.

"Capaian ini baru permulaan; bukan batas akhir. Di forum ini, saya mengusulkan agar Indonesia dan Rusia menetapkan tantangan yang jelas bagi diri kami menggandakan perdagangan kami dalam periode peninjauan pertama perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia," ujarnya.

Peningkatan tersebut didorong oleh faktor ekonomi yang saling melengkapi, rencana pemberlakuan perjanjian dagang Indonesia-EAEU pada awal 2027, serta penguatan relasi bisnis. 

Prabowo juga menegaskan bahwa bagi para pelaku usaha Eurasia, Indonesia bertindak sebagai gerbang utama menuju Asean karena posisinya sebagai pasar terbesar di kawasan sekaligus pusat RCEP dan mitra perdagangan bebas.

Selain itu, kedekatan geografis antara Indonesia dan Vladivostok di kawasan Samudra Pasifik dipandang sebagai potensi strategis untuk memperkuat konektivitas ekonomi. Karakter wilayah Rusia Timur Jauh yang luas dan mirip dengan Indonesia turut dilihat sebagai peluang emas dalam meningkatkan kerja sama pembangunan.

Gagasan kerja sama ini bermuara pada tujuan besar untuk memastikan pertumbuhan ekonomi memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat, selaras dengan tema EEF ke-11, "Timur Jauh: Pembangunan untuk Kesejahteraan Rakyat". 

Kebijakan ekonomi Indonesia dijalankan secara realistis dan pragmatis dengan menempatkan kepentingan rakyat di lini terdepan, termasuk penyediaan makanan bergizi gratis, upaya swasembada pangan, ketahanan energi, serta percepatan hilirisasi industri di dalam negeri.

Terkini