Aktifkan Forum JTIC, RI-Malaysia Perkuat Kerja Sama dan Investasi

Kamis, 03 September 2026 | 21:31:31 WIB
Menteri Perdagangan Budi Santoso [FOTO: NET].

JAKARTA — Indonesia dan Malaysia kembali mengaktifkan jalinan kerja sama perdagangan dan investasi lewat wadah Joint Trade and Investment Committee (JTIC) pasca-vakum selama sembilan tahun. Forum bilateral tersebut membedah sederet materi strategis, mencakup regulasi Devisa Hasil Ekspor (DHE), aktivitas perdagangan perbatasan, keterbukaan akses pasar, hingga investasi.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memaparkan bahwasanya JTIC berfungsi sebagai sarana bilateral untuk memperkokoh kemitraan Indonesia dan Malaysia pada sektor perdagangan dan investasi. Platform ini turut menjadi wadah bagi kedua pihak guna membedah berbagai isu, tantangan, serta peluang yang menjadi atensi bersama.

“JTIC merupakan forum bilateral yang dibentuk untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Malaysia di bidang perdagangan dan investasi sekaligus menjadi wadah bagi kedua negara untuk membahas berbagai isu, tantangan, dan peluang yang menjadi kepentingan bersama,” kata Budi dalam The 4th Indonesia-Malaysia Joint Trade and Investment Committee (JTIC) Ministerial Meeting di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026).

Menurut penjelasan Budi, forum tingkat menteri ini juga menjadi bagian dari komitmen untuk memastikan setiap bentuk kerja sama serta kesepakatan bilateral dapat direalisasikan secara konkret dan memberikan maslahat bagi kedua negara.

Pada kesempatan tersebut, pihak Indonesia dan Malaysia sepakat memperkokoh kemitraan perdagangan maupun investasi via mekanisme yang relevan. Kedua belah pihak juga berkomitmen mengawal implementasi Border Trade Agreement agar berjalan optimal guna mempermudah lalu lintas perdagangan perbatasan sekaligus memperkuat konektivitas ekonomi, terkhusus di kawasan perbatasan.

Bahasan rapat juga menyentuh aspek akses pasar dan fasilitasi perdagangan, termasuk komoditas pertanian dan pangan. Kedua negara berupaya menuntaskan beragam hambatan yang masih mengganjal arus perdagangan bilateral.

Di sektor investasi, Indonesia dan Malaysia bersepakat meningkatkan sinergi serta menciptakan iklim investasi yang kondusif. Kolaborasi pada bidang e-commerce, sektor pertanian, produk halal, hingga penyelarasan standar juga dipastikan bakal berlanjut.

“Kami yakin hasil ini akan semakin memajukan hubungan perdagangan dan investasi bilateral serta memperdalam kerja sama ekonomi antara kedua negara,” ujarnya.

Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia Datuk Seri Johari Abdul Ghani menyampaikan bahwa penyelenggaraan JTIC kali ini menjadi momentum berharga untuk mempererat kembali hubungan ekonomi kedua negara usai forum tersebut tidak digelar selama sembilan tahun.

“Ini adalah pertemuan yang belum kami adakan selama sembilan tahun. Ini merupakan pertemuan keempat, dan saya telah mengundang Pak Budi [Menteri Perdagangan Budi Santoso] tahun depan untuk datang ke Kuala Lumpur untuk mengadakan pertemuan Joint Trade and Investment Committee kelima di Kuala Lumpur tahun depan,” kata Johari.

Salah satu topik yang dibahas ialah penerapan Border Trade Agreement yang telah ditandatangani Indonesia dan Malaysia pada 2023 dan resmi berlaku sejak Juli 2026. Johari berharap kesepakatan tersebut sanggup memacu geliat ekonomi di area perbatasan.

“Salah satunya adalah Border Trade Agreement yang telah kami tandatangani pada 2023 dan berlaku pada Juli 2026. Kami berharap perjanjian perbatasan ini dapat memfasilitasi banyak kegiatan ekonomi antara kedua negara,” ujarnya.

Di luar urusan perdagangan perbatasan, kebijakan DHE yang diterapkan Indonesia turut menjadi materi bahasan. Johari menuturkan bahwa pihak Malaysia memahami pertimbangan pemerintah Indonesia memberlakukan aturan tersebut. Ia menjamin kalangan pelaku usaha asal Malaysia yang beroperasi di Indonesia bakal patuh pada regulasi yang berlaku.

“Kami juga berupaya memahami kebijakan Devisa Hasil Ekspor yang diperkenalkan Indonesia, dan kami mulai memahaminya. Kami tahu alasan di balik kebijakan tersebut. Sebagai komunitas bisnis Malaysia, kami akan mendukung kebijakan itu. Apa pun yang baik untuk Indonesia, jika kami ingin datang ke sini untuk berbisnis, kami akan terus mematuhi kebijakan yang diterapkan Indonesia,” tuturnya.

Menurut pandangan Johari, diskusi mendalam terkait DHE memegang peranan krusial seiring kian eratnya jalinan ekonomi kedua bangsa. Pihak Indonesia dan Malaysia turut mendiskusikan standarisasi mutu serta kolaborasi produk halal demi mendorong arus perdagangan bilateral.

Mengenai aspek investasi, Johari mengutarakan iktikad Malaysia untuk mendongkrak kerja sama dengan pihak Indonesia. Menurutnya, keharmonisan yang terjalin di level pimpinan negara perlu diselaraskan dengan penguatan kemitraan pada tingkatan menteri dan pelaku industri.

“Kami ingin memastikan bahwa kami dapat bekerja sama dengan Indonesia secara sangat erat, terutama karena kedua pemimpin kami, Presiden dan Perdana Menteri Malaysia, memiliki hubungan yang sangat dekat. Di tingkat kami, tingkat menteri, kami ingin meningkatkan kerja sama investasi ini,” ujar Johari.

Ia mengemukakan bahwa Malaysia telah mengalirkan investasi sebesar kurang lebih 70 miliar ringgit atau setara Rp17 miliar AS ke bumi Nusantara selama tiga tahun beruntun pada 2023, 2024, dan 2025. Johari menegaskan iktikad Malaysia untuk mempertahankan tren positif investasi tersebut. Menurutnya, konsolidasi kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Malaysia sekaligus dapat menjadi fondasi kuat dalam mendongkrak transaksi perdagangan intra-Asean.

Terkini