Prabowo Serukan Kerja Sama RI-Rusia di EEF 2026

Jumat, 04 September 2026 | 01:13:02 WIB
Presiden Prabowo Subianto. (Foto: NET)

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menyerukan penguatan kemitraan strategis antara Indonesia dan Rusia dengan mengusung semangat kebersamaan serta gotong royong. Menurutnya, berbagai kesepakatan ekonomi yang terjalin harus mampu memberikan dampak positif dan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat kedua negara.

Pesan tersebut disampaikan oleh Presiden saat memberikan pidato kunci sebagai Tamu Kehormatan Utama dalam ajang Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang berlangsung di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia, pada Kamis (3/9/2026). 

Di sela-sela penyampaian pandangannya, Presiden juga mengungkapkan permohonan maaf kepada Presiden Rusia Vladimir Putin atas ketidakhadirannya dalam KTT Asean-Rusia ke-20 pada Juni lalu akibat urusan domestik. Pernyataan tersebut disambut dengan senyuman oleh Putin.

Memasuki bagian akhir pidatonya, Presiden mengutip sebuah pepatah khas Rusia yang bermakna bahwa seseorang tidak dapat berjuang sendirian di medan perang.

“Tidak ada kemenangan jika kita berjuang sendirian,” kata Prabowo.

Presiden lantas menghubungkan pepatah tersebut dengan nilai luhur yang telah lama dikenal di Indonesia, yakni gotong royong.

“Beban apa pun yang berat akan menjadi ringan ketika kita memikulnya bersama,” ujarnya, yang disambut dengan senyuman hangat dari Putin.

Lebih lanjut, Presiden menekankan bahwa meskipun Indonesia dan kedua negara memiliki latar belakang budaya serta bahasa yang berbeda, kedua bangsa berbagi kebijaksanaan kuno yang serupa mengenai pentingnya kerja sama.

“Kita memiliki bahasa yang berbeda, tetapi kita memiliki kebijaksanaan kuno yang sama dari para leluhur kita,” ungkap Presiden.

Fokus pada Kesejahteraan Rakyat dan Langkah Konkret

Presiden menegaskan bahwa seluruh agenda strategis yang dibahas dalam forum ekonomi tersebut—mulai dari perjanjian perdagangan bebas (FTA), koridor transportasi, sistem pembayaran, hingga proyek industri—bukan sekadar urusan teknis birokrasi antarpemerintah. 

Seluruh rangkaian agenda itu harus bermuara pada satu tujuan utama, yakni peningkatan kesejahteraan rakyat.

“Segala sesuatu yang kita diskusikan hari ini—pos-pos tarif yang tercakup dalam FTA, koridor transportasi, sistem pembayaran, proyek-proyek industri—ada untuk satu alasan,” ujar Prabowo.

Ia menggambarkan esensi kerja sama tersebut secara sederhana melalui harapan seorang nelayan di Indonesia dan seorang pembuat kapal di Rusia agar anak-anak mereka dapat menatap masa depan dengan penuh keyakinan. 

Presiden juga mengajak kedua negara untuk segera mewujudkan langkah nyata, mulai dari membuka jalur pelayaran dan penerbangan langsung, melipatgandakan volume perdagangan, hingga memperluas kolaborasi produksi bersama di sektor pangan, pupuk, energi, obat-obatan, serta teknologi.

Selain itu, Presiden kembali mendorong sinergi antara lembaga pengelola dana investasi atau sovereign wealth fund Indonesia, Danantara, dengan Russian Direct Investment Fund (RDIF) guna membiayai berbagai proyek strategis bersama. 

Menutup pidatonya, Presiden menegaskan bahwa di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, Indonesia dan Rusia memilih untuk membangun jembatan kerja sama demi mewujudkan perdamaian dan kemakmuran yang langgeng bagi masyarakat luas.

Terkini