Terdampak Abu Anak Krakatau, Penumpang dan Logistik Beralih Moda

Selasa, 08 September 2026 | 03:43:01 WIB
Sejumlah calon penumpang antre di konter lapor diri di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang [FOTO: NET].

JAKARTA - Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai merembet menjadi persoalan mobilitas dan jalur distribusi. Saat deretan penerbangan dibatalkan atau dijadwalkan ulang, publik dan pelaku usaha terpaksa berburu trayek alternatif demi menjamin pergerakan penumpang maupun alur barang tetap mengalir.

Bagi pengguna jasa penerbangan, pembatalan jadwal menyulut perombakan agenda bisnis dan rencana perjalanan warga. Paling tidak 13.000 penumpang di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali serta 29.619 penumpang di Soekarno-Hatta terdampak aksi penutupan bandara.

Maheswara (23), seorang pekerja swasta, terpaksa merelakan perjalanan dinasnya dari Jakarta menuju Kuala Lumpur pada Minggu (6/9/2026) batal. Penerbangan Batik Air Malaysia yang sedianya mengudara pukul 09.00 WIB dibatalkan berjarak kisaran sembilan jam sebelum jadwal keberangkatan.

Ia mengapresiasi kejelasan informasi dari maskapai yang memberi tahu pembatalan lebih awal, meski di saat bersamaan persiapan yang matang menjadi sia-sia.

“Di satu sisi saya bete, tetapi yasudah mau bagaimana lagi. Better enggak take off daripada enggak landing kan?” kata Maheswara, Senin (7/9/2026).

Keluhan senada disampaikan Nida (24), pekerja swasta yang hendak merampungkan tugas dari Sampit menuju Jakarta. Penerbangan Super Air Jet yang seharusnya mengudara pada 7 September 2026 pukul 14.50 WIB digeser jadwalnya menjadi 10 September 2026.

Nida mengaku kaget dan bingung akibat tak menerima pemberitahuan lewat surat elektronik perihal status penerbangannya. Ia harus proaktif mencari informasi melalui jejaring media sosial hingga mendatangi langsung lokasi bandara demi mengetahui opsi yang tersedia.

Agen Perjalanan Terdampak

Ketua Astindo Pauline Suharno mengutarakan bahwa disrupsi penerbangan berdampak nyata terhadap konsumen agen perjalanan maupun masyarakat luas. Di luar penyesuaian agenda, terdapat potensi kerugian materiil mencakup biaya hotel, tiket atraksi, penerbangan domestik, hingga transportasi di negara tujuan yang belum tentu bisa dikembalikan secara utuh.

Warga negara Indonesia yang hendak bertolak kembali ke Tanah Air turut menghadapi krisis serupa. Mereka berpotensi menanggung tambahan biaya untuk pakaian, akomodasi, dan konsumsi selama tertahan di luar negeri.

“Sementara kami masih membantu pelanggan untuk menyusun ulang perjalanan mereka. Dalam kondisi ini kami tidak menghitung kerugian dahulu,” kata Pauline.

Menurut pandangannya, agen perjalanan berupaya mengantisipasi lonjakan penumpang terdampak dengan memfasilitasi kebutuhan mereka serta mencarikan opsi rute alternatif. Kendati demikian, penyesuaian tersebut tetap mengerek biaya operasional, sementara proteksi asuransi memiliki keterbatasan sewaktu gangguan diklasifikasikan sebagai force majeure.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani tak menampik bahwa dinamika terkini memengaruhi tingkat keterisian kamar (okupansi) sejumlah hotel di kawasan terdampak.

Di satu sisi, jajaran hotel di seputar bandara terdampak menikmati lonjakan okupansi. Sebaliknya, hotel di area lain justru mencatatkan penurunan lantaran konsumen membatalkan pesanan akibat gagal bertolak ke destinasi tujuan.

“Karena batal berangkat, ada hotel yang memang mereka akhirnya perpanjang. Kisarannya bervariasi, misalnya di hotel di Tuban, dia meningkat sampai 100%,” ujarnya.

Kedepannya, Hariyadi mendorong jajaran pemerintah untuk berbagi beban risiko sewaktu mengantisipasi potensi serupa, mengingat posisi Indonesia merupakan wilayah rawan bencana. Contohnya, lewat penyusunan protokol khusus dengan memfasilitasi tempat penginapan khusus bagi wisatawan yang terdampak.

Selain itu, pemerintah disarankan mengkaji pemberian insentif bagi maskapai, baik berupa pembebasan biaya maupun potongan tarif ground handling sewaktu darurat bencana.

“Jadi lebih kepada nantinya kami punya SOP untuk menghadapi dampak ini. Ada langkah-langkah untuk sharing risk atau urunan terhadap risiko itu,” tambahnya.

Bus, Kapal, Kereta Jadi Alternatif

Kala moda udara terhambat, kemampuan sarana transportasi darat dan laut dalam menyerap perpindahan masyarakat memegang peranan krusial. Bus, kapal, dan kereta hadir sebagai penyangga utama agar pergerakan warga tetap berlangsung.

Sebagai contoh, Perusahaan Umum Damri membukukan lonjakan penjualan tiket hingga sekitar 98% pada 6 September 2026 bila dibandingkan hari sebelumnya.

Head of Corporate Communication Perum DAMRI Niken Pratiwi Syah Putri Distian membeberkan bahwa operasional armada Damri tetap berjalan normal, termasuk untuk rute Trans Jawa dari dan menuju Sumatra. Lampung serta Jakarta menjadi kawasan penyumbang dominasi penjualan tiket sepanjang kurun pemantauan, dengan kontribusi akumulatif menembus kisaran 66%.

“Damri dapat menjadi salah satu alternatif transportasi darat bagi masyarakat yang terdampak perjalanan udara,” kata Niken.

Moda kereta api turut menampung pergeseran arus penumpang. PT KAI merealisasikan penambahan gerbong pada sejumlah rute perjalanan kereta api sepanjang 6-7 September 2026.

Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta Franoto Wibowo mengungkapkan bahwa tren kedatangan penumpang kereta api jarak jauh di area Daop 1 Jakarta melonjak pada Senin, 7 September 2026. Merujuk data sementara pukul 08.00 WIB, tercatat 37.389 pelanggan tiba di deretan stasiun wilayah Daop 1 Jakarta. Nilai tersebut menggelembung sekitar 18,4% jika dibandingkan hari sebelumnya yang mencatatkan 31.565 pelanggan.

Kenaikan volume tersebut menjadi bukti bahwa moda kereta mampu bertindak sebagai penyangga sewaktu mobilitas jalur udara mengalami hambatan.

Perlintasan penyeberangan serta pelayaran turut menjadi elemen vital dalam skenario pengalihan alur. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni menjamin operasional kapal tetap terjaga di tengah dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) juga mengoptimalkan layanan penyeberangan seraya mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan pengguna jasa sebagai prioritas utama, menyusul geliat Gunung Anak Krakatau yang berimbas pada moda transportasi.

Wakil Ketua Umum MTI Bidang Perumusan Kebijakan Transportasi menilai peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak 4 September 2026 mesti diwaspadai sebagai potensi gangguan bagi sistem transportasi strategis nasional.

Letak geografis Anak Krakatau di Selat Sunda membuat dampaknya mengikat sektor penerbangan, penyeberangan, pelayaran, akses jalan, pelabuhan, hingga rantai logistik Jawa-Sumatra. Menurutnya, pemanfaatan lintasan penyeberangan Merak-Bakauheni harus menjadi pilar penting dalam skenario tersebut selama indikator keselamatan maritim tetap aman.

“Karena itu, pengoperasian penyeberangan Merak–Bakauheni harus menjadi bagian penting dalam skenario mitigasi,” ujarnya.

Penghentian sementara operasional bandara terdampak abu vulkanik dinilai sudah tepat demi mengagungkan prinsip keselamatan. Namun, langkah mitigasi wajib menjamin ketersediaan konektivitas saat satu moda transportasi mengalami kendala.

MTI turut memacu penguatan ekosistem pelabuhan di Selat Sunda sebagai bagian dari rantai alternatif distribusi. Pelabuhan Ciwandan, Bojonegara, Krakatau Bandar Samudera, Pelabuhan Panjang, Bakauheni, beserta beragam terminal industri memegang peranan krusial bagi pergerakan bahan baku, produk manufaktur, energi, material konstruksi, hingga komoditas strategis.

MTI memandang pemerintah perlu mengaktifkan rencana kontingensi transportasi multimoda Selat Sunda yang mengintegrasikan regulator, badan kebencanaan, operator transportasi, pengelola pelabuhan, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah.

Di ranah penerbangan, beberapa maskapai mulai mengalihkan penerbangan ke bandara alternatif guna menjaga kontinuitas konektivitas. Hingga 7 September 2026, empat jadwal penerbangan Garuda Indonesia telah memanfaatkan Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati sebagai pengalih dari Bandara Soekarno-Hatta.

Sementara itu, Singapore Airlines mengesampingkan pesawat Boeing 737-800 dan menggantinya dengan Airbus A350 yang berkapasitas angkut lebih besar. Maskapai juga mematangkan skema kompensasi bagi penumpang terdampak. Citilink memfasilitasi perubahan jadwal gratis dan pengembalian dana, sedangkan AirAsia Indonesia menawarkan pengembalian dana penuh, credit account, perubahan jadwal tanpa biaya, hingga pengalihan rute tertentu sesuai ketersediaan.

Kala satu moda terganggu, moda alternatif dituntut sanggup mempertahankan ambang konektivitas minimum. Pola penanganan ini teramat vital bagi koridor Jawa-Sumatra yang menopang mobilisasi penduduk sekaligus pasokan logistik dan kebutuhan pokok.

Logistik Masih Melaju

Imbas gangguan penerbangan mulai merambah pada alur pengiriman barang. Penutupan beberapa bandara akibat abu vulkanik membuat pengiriman logistik via udara berpotensi tersendat dan mengalami pengalihan rute.

Sekjen ALFI Trismawan Sanjaya menyampaikan bahwa para pelaku bisnis logistik bergegas menyusun skenario kontingensi dengan memanfaatkan moda alternatif udara dan laut melewati rute yang aman dari sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Sektor logistik sempat tersendat pascaerupsi, utamanya untuk pengiriman yang mengandalkan Bandara Soekarno-Hatta. Meski begitu, hingga kini belum ada laporan dari jajaran anggota ALFI terkait kendala parah pada aktivitas logistik di Sumatera Selatan, Banten, maupun Jabodetabek.

Sementara itu, Ketua Bidang Perhubungan dan Logistik Apindo sekaligus Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto menyebut operasional armada pelayaran masih berlangsung normal. Pelaku usaha juga belum menerima laporan mengenai kemerosotan pengiriman barang yang drastis.

“Namun yang pasti, kami terus mengikuti perkembangan situasi saat ini, dan berharap distribusi logistik terutama kebutuhan pokok masyarakat tetap terjaga,” kata Carmelita.

Menurut pandangannya, penutupan sejumlah bandara, termasuk Soekarno-Hatta dan Halim, berimbas pada layanan pengiriman logistik udara yang berpotensi mengalami penundaan serta penyesuaian rute. Nominal pasti kerugian atas kondisi ini belum dapat diproyeksikan.

Oleh sebab itu, jalur laut dan darat mulai disiagakan sebagai penopang utama andaikata disrupsi penerbangan berlangsung lebih panjang. Carmelita menegaskan koordinasi lintas instansi dan pelaku usaha wajib diperkuat demi menjaga keandalan arus barang.

“Jika situasi ini berkepanjangan, tentu seluruh stakeholder perlu duduk Bersama untuk sama-sama mempersiapkan moda alternatif, jika terjadi kendala arus logistic secara massif,” tuturnya.

Harapannya, keselamatan tetap bertindak sebagai prioritas utama, tanpa mengorbankan kelancaran distribusi barang dan pasokan kebutuhan pokok masyarakat.

Terkini

Real Madrid vs Inter Milan: Ujian Berat Nerazzurri di Bernabeu

Selasa, 08 September 2026 | 06:04:02 WIB

Real Madrid Vs Inter Milan: 3 Pemain Los Blancos Absen

Selasa, 08 September 2026 | 05:59:32 WIB

Rybakina Tekuk Osaka, Selangkah Menuju Peringkat Satu Dunia

Selasa, 08 September 2026 | 05:57:32 WIB

Ryan Garcia & Conor Benn Lolos Tes Berat

Selasa, 08 September 2026 | 05:53:02 WIB

Zheng Singkirkan Swiatek, Gauff Melaju di US Open

Selasa, 08 September 2026 | 05:48:32 WIB