JAKARTA — PT Bank Jago Tbk. (ARTO) berhasil membukukan kenaikan performa pada jumlah nasabah, dana pihak ketiga (DPK), serta penyaluran kredit hingga paruh pertama tahun 2026. Tercatat sebanyak 20,1 juta nasabah, yang mana 14,7 juta di antaranya merupakan pengguna aktif layanan funding Aplikasi Jago.
Perkembangan tersebut mendongkrak total DPK Bank Jago hingga tumbuh 23% secara tahunan (year on year/YoY) mencapai Rp27,6 triliun per Juni 2026. Di sisi lain, realisasi penyaluran kredit sukses menyentuh angka Rp26,6 triliun atau terkerek naik sebesar 24% YoY.
Direktur Finance & Operations Bank Jago, Supranoto Prajogo, mengungkapkan bahwa tren positif ini berhasil diraih di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan.
Tekanan tersebut meliputi faktor domestik seperti fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat serta peninjauan dari MSCI, ditambah sentimen eksternal berupa ketegangan geopolitik akibat konflik antara Israel dan Iran.
“Tetapi selama semester I ini kami tetap menjaga momentum pertumbuhan dari Bank Jago yang berkesinambungan. Total aset kami itu meningkat sebesar 28% menjadi lebih dari Rp40 triliun, kredit kami meningkat sebesar 24% YoY menjadi Rp26,6 triliun, jika dibandingkan dengan pertumbuhan kredit di industri perbankan di Indonesia sampai Juni tahun 2026 ini sebesar 13%,” ucapnya dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).
Peningkatan DPK sebesar 23% YoY menjadi Rp27,6 triliun tersebut turut disokong oleh kontribusi kuat dari segmen nasabah retail. Selain itu, ekuitas perusahaan mengalami penguatan 4% YoY menjadi Rp9 triliun, sementara perolehan laba setelah pajak melonjak tajam sebesar 49% YoY hingga menembus angka Rp189 miliar.
Supranoto menerangkan bahwa lonjakan laba bersih ini didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih yang tumbuh 28% YoY menjadi Rp1,49 triliun.
Komponen pendukung lainnya mencakup peningkatan pendapatan komisi sebesar 41% YoY menjadi Rp455 miliar serta pertumbuhan pendapatan operasional sebesar 30% hingga mencapai Rp2,92 triliun.
“Secara overall, pendapatan fee income kami sekitar 16% dari total pendapatan operasional dan tentunya kami ingin ini senantiasa meningkat dari tahun ke tahun,” ucapnya.
Sementara itu, total beban operasional perusahaan mengalami kenaikan 23% YoY menjadi Rp1,70 triliun. Porsi beban operasional terbesar didominasi oleh sektor teknologi informasi sebesar 40% serta sekitar 30% dialokasikan untuk biaya tenaga kerja dan depresiasi.
Dengan kalkulasi tersebut, pendapatan operasional bersih tercatat sebesar Rp1,22 triliun atau terkerek 39% YoY. Di samping itu, beban Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) berada di angka Rp870 miliar atau meningkat 35% YoY.
“Ini sejalan dengan kenaikan outstanding dari kredit dan pembiayaan syariah kami Dengan seluruh kondisi tersebut laba rugi, baik sebelum dan setelah pajak ini meningkat sebesar 49%, suatu pertumbuhan yang cukup baik dan tentunya kami mengharapkan bahwa profitability ini dapat berjalan secara berkesinambungan,” jelas Supranoto.
Menutup pemaparannya, Supranoto memaparkan sejumlah rasio keuangan penting per paruh pertama 2026.
Bank Jago mencatatkan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) pada level 28,4%, Cost of Fund atau CASA di angka 53%, serta rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross yang terjaga rendah di level 0,8%.
Selain itu, Net Interest Margin (NIM) perseroan tercatat sebesar 8,5% dengan rasio efisiensi atau Cost to Income Ratio (CIR) berada di kisaran 56%.