Kemenhut-FAO Luncurkan MERANTI untuk Modernisasi Pemantauan Hutan RI

Jumat, 11 September 2026 | 02:08:01 WIB
Ilustrasi - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) secara resmi merilis proyek Monitoring and Enhancement of Remote Sensing for National Forest Inventory (MERANTI). (Foto: NET)

JAKARTA — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) secara resmi merilis proyek Monitoring and Enhancement of Remote Sensing for National Forest Inventory (MERANTI) demi memodernisasi sistem pengawasan hutan di Indonesia.

“Data kehutanan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, perencanaan pembangunan, pemantauan kondisi sumber daya hutan, evaluasi pengelolaan hutan, serta penyusunan berbagai laporan nasional dan internasional,” ujar Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Kemenhut Ade Tri Ajikusumah lewat keterangan bersama FAO di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Proyek yang bernilai 4,83 juta dolar AS atas sokongan Pemerintah Norwegia tersebut diproyeksikan mampu mencetak data hutan yang dapat diandalkan, berketepatan tinggi, serta berdurasi pengerjaan lebih singkat lewat pemanfaatan IHN 2.0.

Di samping itu, MERANTI diandalkan sanggup menembus pelbagai kawasan yang dahulu sukar terjangkau, contohnya area pesisir mangrove serta hutan kelolaan masyarakat.

IHN sendiri berfungsi sebagai standar pokok untuk menghimpun data terperinci di lapangan, meliputi komposisi jenis, cadangan biomassa, tingkat kerusakan hutan, hingga kondisi tanah, di mana seluruh informasi tersebut mustahil didapat semata-mata lewat tangkapan citra satelit.

Terlepas dari memuluskan langkah Pemerintah Republik Indonesia dalam merumuskan kebijakan aksi iklim yang dilandasi bukti kuat, ketersediaan data hutan yang terbuka serta tepercaya pun bakal memperluas kesempatan negara dalam menyerap pendanaan iklim berbasis kinerja guna mengakselerasi roda pembangunan berkelanjutan serta rendah karbon.

“MERANTI mencerminkan komitmen bersama kami terhadap transparansi, pengambilan keputusan berbasis sains, dan aksi iklim yang efektif,” tutur Penasihat Bidang Hutan dan Iklim untuk Kedutaan Besar Kerajaan Norwegia di Jakarta Esben Marcussen.

Rangkaian program MERANTI dijadwalkan bergulir kurun 2026 sampai 2028. Sepanjang periode tersebut, pihak FAO siap mendampingi Indonesia guna menghimpun data lapangan pada sedikitnya 500 klaster IHN seantero nusantara, sekaligus menyelaraskannya bersama data satelit demi merumuskan analisis data secara menyeluruh.

Bukan itu saja, FAO turut menyalurkan sokongan teknis lanjutan guna mendongkrak kompetensi aparatur pemerintah dalam menjalankan IHN berikut analisis data, seraya menjamin terselenggaranya standar mutu beserta pengendaliannya.

Nantinya, portal web IHN anyar ini bakal disatukan pula ke dalam sistem aplikasi web pemantauan milik Indonesia, yakni Sistem Monitoring Hutan Nasional (SIMONTANA).

“Peran kami adalah membantu memperkuat dengan menghadirkan pengalaman, standar, serta pendekatan teknis berskala internasional, mendukung modernisasi penginderaan jauh dan sistem pemantauan nasional, dan melakukan transfer pengetahuan serta pengembangan kapasitas yang akan tetap ada di Indonesia,” ucap Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal.

Terkini