JAKARTA - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menyebutkan pengalaman China di bidang pembangunan sumber daya manusia, wilayah, ekonomi, serta industri mampu menjadi acuan pengembangan wilayah transmigrasi Indonesia.
Ia menguraikan Kementerian Transmigrasi tidak meniru suatu pola wilayah transmigrasi dari China, melainkan mendalami pengalaman pembangunan negara tersebut demi memperbanyak opsi model yang bisa diaplikasikan sesuai keperluan kawasan transmigrasi di Indonesia.
“Kami ingin agar model-model pembangunan di Republik Rakyat China bisa memberikan inspirasi kepada kami sebagai perbandingan yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi, sosial, budaya masyarakat di kawasan transmigrasi,” kata Viva dalam acara "Seminar on China's Development Model" di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Hal itu diungkapkan Wamentrans sewaktu memberikan pidato pembuka dalam seminar yang mempertemukan jajaran Kementerian Transmigrasi bersama akademisi Peking University serta delegasi Kedutaan Besar Republik Rakyat China di Indonesia.
Menurutnya, unsur penting yang layak dipelajari mencakup aspek pembangunan sumber daya manusia dan kewilayahan, perumusan model ekonomi berdasarkan komoditas unggulan masing-masing daerah, serta kemajuan sektor industri.
Pengalaman tersebut, lanjut Viva, tidak langsung diaplikasikan begitu saja mengingat setiap negara mempunyai karakteristik serta tantangan pembangunan yang berlainan.
Oleh sebab itu, pembelajaran dari China diposisikan sebagai sudut pandang pembanding guna memperbanyak alternatif pembangunan yang selaras dengan situasi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat di kawasan transmigrasi Indonesia.
Viva menegaskan transmigrasi saat ini bukan sekadar urusan perpindahan penduduk, melainkan menjelma menjadi porsi dari agenda pembangunan yang lebih luas meliputi penataan wilayah, penguatan ekonomi, pembinaan sumber daya manusia, serta masyarakat.
Strategi tersebut pun menjadi salah satu fondasi Kementerian Transmigrasi melibatkan unsur akademisi lewat Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 dalam memajukan kawasan transmigrasi.
Sepanjang tahun 2026, Kementerian Transmigrasi menerjunkan sebanyak 1.476 orang peserta TEP ke 53 wilayah transmigrasi untuk menjalankan riset, pengkajian, serta pendampingan berlandaskan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Para peserta terdiri atas 39 profesor, 10 peneliti pascadoktoral, 158 doktor, 49 magister, 214 mahasiswa magister terapan, serta 937 sarjana dari berbagai institusi perguruan tinggi.
“Kami ingin membangun kawasan transmigrasi dengan ilmu pengetahuan,” ujar Viva.
Ia menuturkan keikutsertaan perguruan tinggi diharapkan mampu memperluas sudut pandang akademis dalam merumuskan orientasi pengembangan kawasan agar proses pembangunan bisa berjalan secara terstruktur, ajek, dan berkelanjutan.
Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan itu juga diarahkan guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah serta mempercepat munculnya gagasan baru yang selaras dengan potensi tiap-tiap kawasan transmigrasi.
"Seminar on China's Development Model" ini diadakan oleh Kementerian Transmigrasi berkolaborasi bersama Kedutaan Besar Republik Rakyat China di Indonesia serta Peking University melalui Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD).
Forum yang dihelat pada tanggal 11-12 Agustus 2026 tersebut mengupas pengalaman China terkait pembangunan nasional, pembaruan ekonomi, sistem administrasi pemerintahan, serta kemitraan pembangunan antarnegara berkembang.
Ketua Dewan Manajemen National School of Development Peking University Prof Lei Xiaoyan menyampaikan bahwa kerja sama tersebut menjadi momentum memperluas pertukaran pengalaman pembangunan antara Indonesia dan China.
Lei mengungkapkan Peking University mempunyai rekam jejak dalam riset sekaligus pendampingan teritorial di China dalam rangka penanggulangan kemiskinan. Pengalaman itu bisa menjadi salah satu materi pembelajaran bersama dengan Indonesia.
“Kami memiliki banyak pengalaman yang dapat dibagikan ke depan, tidak hanya dalam seminar hari ini, tetapi ke depan mungkin masih banyak hal yang dapat kami lakukan bersama,” ujar Lei.
Ia menggarisbawahi bahwa kerja sama itu bersifat timbal balik karena pihaknya pun bermaksud mendalami pengalaman pembangunan Indonesia di samping membuka peluang kolaborasi lanjutan antara Peking University dan Kementerian Transmigrasi.