JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Australian Nuclear Science and Technology Organisation (ANSTO) menjajaki penguatan kemitraan di ranah penyelidikan serta teknologi atom.
Berbagai sektor potensial dibahas kedua institusi, mulai dari teknologi pemercepat dan reaktor penyelidikan, hingga pendayagunaan teknologi nuklir demi menopang ketahanan pangan.
Kepala Pusat Riset Teknologi Akselerator BRIN Muhammad Rifai mengutarakan, pihaknya membuka peluang sinergi dengan beragam instansi penyelidikan serta perguruan tinggi.
Kerja sama tersebut sanggup dijalankan lewat platform kemitraan yang memungkinkan penyelidik dari pelbagai negara beraktivitas bersama penyelidik Indonesia.
“Kami mengundang organisasi riset lain, universitas, maupun lembaga riset lain untuk bergabung bersama kami dalam proyek kolaborasi. Kami memiliki platform yang terbuka bagi mitra untuk bergabung dan bekerja sama dengan kami,” ujarnya melalui keterangan resmi dikutip Kamis (13/8/2026).
Berdasarkan keterangan Rifai, kemitraan itu tidak sekadar diarahkan pada agenda penyelidikan, melainkan pula pengembangan kapasitas sumber daya manusia via mobilitas penyelidik, kunjungan penyelidikan bersama, program pascadoktoral, sampai pendayagunaan fasilitas studi milik mitra.
BRIN, sebutnya, mempunyai bermacam fasilitas serta kompetensi penyelidikan nuklir yang sanggup menjadi basis pengembangan kerja sama. Penyelidikan tersebut diaplikasikan antara lain untuk ranah kesehatan, industri, serta energi.
Di dalam kerangka kemitraan nasional dan internasional 2025–2029, BRIN pun mengembangkan platform penyelidikan yang mencakup teknologi pemercepat untuk aplikasi medis dan industri.
Rifai memaparkan, pertukaran penyelidik menjelma komponen krusial dalam sinergi itu. Sebab, hal tersebut memfasilitasi terjadinya transfer pengetahuan sekaligus akselerasi kemampuan teknologi di ranah domestik.
"Ketika mereka kembali, mereka dapat melakukan peningkatan terhadap produk yang kami kembangkan. Program pengembangan kapasitas menjadi bagian penting dalam kerja sama internasional BRIN untuk meningkatkan jumlah sekaligus kualitas sumber daya manusia di bidang nuklir,” Rifai menjelaskan.
Sementara itu, Executive Group, Nuclear Science and Technology ANSTO Andrew Gareth Peele menyatakan, penjajakan kemitraan bersama BRIN dimaksudkan guna memperkokoh relasi serta koneksi yang telah terbangun. Ini sekaligus mendongkrak dampak dari agenda penelaahan dan pengembangan.
Menurut pandangannya, kemitraan memfasilitasi kedua belah pihak membagi persoalan penyelidikan sekaligus memperoleh akses terhadap infrastruktur yang esensial guna menjawab problematika tersebut.
“Yang ingin kami bicarakan adalah bagaimana memperkuat hubungan dan koneksi yang telah terbangun. Pada akhirnya, kami ingin meningkatkan dampak dan manfaat dari kegiatan penelitian dan pengembangan,” ungkap Peele.
Dia menggarisbawahi bahwa ukuran keberhasilan kemitraan penyelidikan tidak semata-mata bertumpu pada publikasi ilmiah. Pengetahuan serta kapabilitas yang lahir dari penyelidikan perlu diterjemahkan menjadi faedah yang lebih luas bagi industri, organisasi, maupun publik.
“Ketika kami berbagi persoalan dan memiliki akses terhadap infrastruktur yang dapat memberikan pemahaman atas persoalan tersebut, kami berada pada jalur untuk menghasilkan bukan hanya publikasi ilmiah, tetapi juga kemampuan yang dapat membantu industri dan organisasi lain memanfaatkan hasil penelitian,” ujarnya.
Peele mengemukakan, ANSTO menguasai reaktor penyelidikan serta sejumlah infrastruktur studi berskala masif yang didayagunakan bukan semata oleh penyelidik ANSTO, melainkan pula komunitas ilmiah dari Australia serta pelbagai negara.
Sinergi BRIN dan ANSTO diproyeksikan sanggup memperluas pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir guna menjawab bermacam kebutuhan pembangunan, mulai dari kesehatan, lingkungan, industri, sampai ketahanan pangan.
Lewat pertukaran pengetahuan, penguatan kapasitas penyelidik, serta pendayagunaan infrastruktur penyelidikan, kolaborasi ini diarahkan agar hasil penelaahan sanggup menyuplai faedah yang lebih luas bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
“Kolaborasi ini tentang bagaimana kami dapat membantu negara kami meningkatkan keberlanjutan lingkungan, membantu rumah sakit dan dokter meningkatkan hasil kesehatan, sekaligus menyediakan kemampuan yang dapat dimanfaatkan industri,” ujar Peele.