JAKARTA - Tiap anak berhak belajar matematika dengan cara yang gampang dipahami dan membangun keyakinan diri. Bertolak dari impian itu, Telkomsel bersama Pemerintah Provinsi Bali, Gasing Academy, Kuncie, serta para pemangku kepentingan pendidikan di Bali bersinergi mendukung penguatan kapabilitas numerasi tenaga pendidik serta peserta didik lewat ekosistem pembelajaran digital dengan sokongan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk pendidikan (AI for Education).
Lebih dari sekadar kecakapan berhitung, numerasi telah menjelma jadi fondasi untuk bernalar, mengerti informasi, menyelesaikan kendala, serta mengambil keputusan sehari-hari.
Sinergi digitalisasi di sektor pendidikan ini selaras Asta Cita keempat Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam memperkuat pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
Ekosistem kolaborasi bermula dari peningkatan kompetensi pengajar melalui Gasing Academy, dengan metode GASING (Gampang, Asyik, Menyenangkan).
Pembelajaran peserta didik lantas dikuatkan lewat Sacred Octagon, platform berbasis permainan yang disokong dengan teknologi AI untuk membantu anak berlatih matematika secara interaktif dan berjenjang.
SkulPintar selanjutnya dipersiapkan untuk mendukung pembelajaran serta asesmen, sementara hasil pelaksanaan program dirancang agar dapat dipantau berbasis data sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan berkelanjutan.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, mengatakan, “Numerasi lebih dari sekadar kemampuan berhitung, tetapi juga fondasi untuk berpikir, memahami masalah, dan mengambil keputusan. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memberi lebih banyak anak kesempatan untuk belajar, mencoba, mencoba lagi, hingga percaya bahwa mereka bisa dan berhasil. Dari Bali, mari bersama membangun generasi yang lebih cerdas, percaya diri, dan siap membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar.”
Pada momen tersebut, pengajar dan peserta didik menyaksikan serta menjajal pembelajaran Sacred Octagon dan metode GASING. Aktivitas ini jadi langkah awal untuk mengerti kebutuhan di lapangan dan mengukur manfaat program secara berjenjang, sehingga penerapannya tetap relevan bagi sekolah, pengajar, peserta didik, serta keluarga.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menyampaikan, “Kolaborasi ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam membangun SDM Bali Unggul, karena kemampuan numerasi akan membentuk generasi yang terbiasa berpikir logis, bekerja berbasis data, dan siap beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kami mengapresiasi inisiatif Telkomsel dan Prof. Yohanes Surya yang menghadirkan program ini di Bali, dan kami siap mendorong kolaborasi yang lebih luas agar manfaatnya dapat dirasakan oleh sekolah dan masyarakat di seluruh wilayah Bali.”
Dalam konsep AI for Education, tenaga pendidik tetap menjadi pusat proses pembelajaran. Teknologi sebagai instrumen bantu agar pendidik sanggup memberikan pengalaman belajar yang lebih sesuai perkembangan kecakapan peserta didik, bukan untuk menggantikan tuntunan, empati, dan pemahaman pengajar terhadap tiap anak.
Pencetus Metode GASING, Prof. Yohanes Surya Ph.D, mengatakan, “Tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah mereka yang belum dapat kesempatan belajar dari guru dan metode yang baik. Melalui GASING, matematika kami hadirkan secara sederhana, bertahap, dan menyenangkan. Ketika guru semakin percaya diri mengajar dan anak tidak lagi takut mencoba, di situlah proses belajar mulai membawa perubahan.”
Sebelumnya, Telkomsel dan INA AI telah menyajikan Paket Bundling Telkomsel x Sacred Octagon lewat aplikasi MyTelkomsel serta by.U guna memperluas akses keluarga Indonesia terhadap pembelajaran numerasi digital.
Dalam sinergi di Bali, dukungan tersebut dikuatkan lewat keterlibatan pemerintah daerah, peningkatan kompetensi pendidik, pembelajaran peserta didik, serta evaluasi program secara berjenjang.