Menlu RI Ajak Australia Perkuat Ketahanan Energi dan Pangan

Menlu RI Ajak Australia Perkuat Ketahanan Energi dan Pangan
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono mendorong pembentukan kemitraan ketangguhan (partnership resilience) bersama Australia guna mengintensifkan kolaborasi di sektor ketahanan pangan serta energi.

"Kami mencoba untuk fokus di beberapa pilar, maritim, ekonomi, kemudian security, pangan, kemudian dari diskusi yang berjalan, kita sepakat untuk lebih mempersempit fokusnya di bidang ketahanan pangan dan energi," ujar Sugiono saat ditemui di Melbourne pada hari Kamis.

Berdasarkan keterangan Sugiono, ide tersebut muncul akibat konflik di Timur Tengah yang memicu berbagai kendala bagi negara-negara di kawasan, termasuk Australia yang sempat menghadapi tantangan dalam pemenuhan bahan baku pupuk.

Oleh sebab itu, Sugiono memandang pentingnya kerja lapangan yang secara spesifik mampu menjawab berbagai tantangan regional yang bersinggungan langsung dengan kepentingan nasional negara setempat.

"Ini bukan merupakan suatu blok baru ataupun satu grouping baru, tapi lebih kepada mengintensifkan kerja sama dan fokus pada hal-hal yang berkaitan dengan situasi ketahanan di wilayah ini, ketahanan pangan dan ketahanan energi khususnya," terang Sugiono.

Ia menegaskan bahwa inisiatif ini berfungsi sebagai kemitraan komplementer yang memperkuat seluruh kerangka kesepakatan bilateral yang telah terjalin antara Indonesia dan Australia sebelumnya.

Di samping itu, Sugiono mengungkapkan bahwa pihak Indonesia turut meneken pembaruan perjanjian trilateral bersama Australia serta sejumlah negara Kepulauan Pasifik demi mempererat kerja sama lintas sektor.

"Ini semacam renewal dari apa yang sudah ditandatangani pada 2021 yang intinya adalah kerja sama antara negara-negara tersebut dalam berbagai bidang, disaster management, ketahanan pangan, kesehatan, capacity building, kerja sama ekonomi dan seputar itu," tutur Sugiono.

Sebelumnya, delegasi Indonesia dan Australia telah melaksanakan Pertemuan 2+2 tingkat Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan di Melbourne pada hari Rabu, guna membahas langkah nyata implementasi Jakarta Treaty 2026.

Tepat pada tanggal 6 Februari 2026, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri Australia Anthony Albanese meresmikan penandatanganan Indonesia-Australia Treaty on Common Security yang dikenal sebagai Jakarta Treaty 2026.

Dokumen perjanjian tersebut dirancang untuk meningkatkan intensitas konsultasi strategis tingkat tinggi serta memperkokoh komitmen bersama dalam menghadapi berbagai potensi ancaman nyata.

Rangkaian kesepakatan tersebut turut mencakup program latihan militer gabungan di wilayah Indonesia, penempatan perwira tinggi TNI di lembaga pertahanan ADF, peningkatan kuota pendidikan militer, hingga penandatanganan nota kesepahaman investasi antara Australia dan Danantara.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index