ESDM: Distribusi Biodiesel B50 Tembus 80% hingga Agustus

ESDM: Distribusi Biodiesel B50 Tembus 80% hingga Agustus
ILUSTRASI. Biodiesel B50 [FOTO: NET].

JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mematangkan implementasi mandatori Biodiesel 50% atau B50. Hingga akhir Agustus 2026, penyaluran bahan bakar nabati tersebut tercatat telah mencapai sekitar 80% sejak mulai diterapkan pada 1 Juli 2026.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan realisasi distribusi B50 terus menunjukkan peningkatan. Penyaluran oleh PT Pertamina (Persero) bahkan lebih tinggi dibandingkan badan usaha BBM swasta yang turut menjalankan program tersebut.

"Masih ada 1 bulan lagi (untuk evaluasi implementasi). Kalau dari Pertamina sudah hampir 90%. Kalau dari keseluruhan kan ada BU swasta juga, itu kira-kira 80%-an," ujarnya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Pemerintah masih memiliki waktu satu bulan untuk menyelesaikan berbagai persiapan teknis sebelum implementasi B50 berjalan secara penuh. Selama masa transisi, ESDM memperketat pengawasan agar setiap kendala di lapangan dapat diidentifikasi dan diselesaikan secara menyeluruh.

"Jadi kita lihat nanti sebulan lagi terus kita tetap melakukan pengawasan, ini monitoring dan evaluasinya kita perbanyak gitu karena kita ingin persiapkan B50 secara cermat ya," jelasnya.

Eniya menambahkan, secara kumulatif nasional angka penyaluran telah berada di kisaran 80% hingga akhir Agustus. Seluruh pemangku kepentingan juga terus didorong mempercepat pasokan agar target distribusi biodiesel berbasis minyak sawit tersebut dapat tercapai sesuai jadwal.

Untuk wilayah Indonesia Timur, distribusi B50 disebut telah berjalan. Khusus Papua, penyaluran dilakukan melalui satu titik serah karena hanya terdapat satu lokasi distribusi di wilayah tersebut.

"Titiknya, wah ini posisinya itu ya antara 75% sampai 80 kalau total ya, total. Tapi Pertamina sudah 90%. Jadi kemungkinannya sih sudah sih ya, Papua kan hanya ada satu titik serah," imbuhnya.

Sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyatakan kesiapan infrastruktur dari hulu hingga hilir telah dipersiapkan sebelum implementasi penuh B50.

"Terkait implementasi B50 dapat kami sampaikan bahwa Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan infrastruktur penyaluran B50 dari mulai terminal BBM hingga ke lembaga penyalur (SPBU, APMS)," ujarnya kepada Kontan.co.id beberapa waktu lalu.

Pada tahap awal implementasi, Pertamina mengoperasikan 29 dari total 126 terminal bahan bakar untuk mendistribusikan B50 secara serentak ke berbagai wilayah mulai 1 Juli 2026. Jumlah terminal tersebut akan terus bertambah secara bertahap selama masa transisi.

"Ada 29 dari 126 terminal Pertamina telah siap mendistribusikan B50 mulai 1 Juli 2026 sesuai arahan dari pemerintah. Jumlah 29 tersebut akan terus bertambah secara bertahap selama masa transisi," ungkapnya.

Pertamina juga menyiapkan pasokan awal sebesar 37,92 juta liter yang disalurkan melalui 29 Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) yang mencakup sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Balikpapan, dan Makassar.

"Untuk tahap awal mulai 1 Juli kemarin, kami siap untuk mendistribusikan 37,92 juta liter dari 29 Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) di atas. 29 TBBM ini mencakup sebagian besar Sumatera, sebagian besar Jawa, Balikpapan dan Makassar," terangnya.

Selanjutnya, Pertamina memastikan proses transisi akan terus dipantau guna menjaga kelancaran distribusi hingga produk B50 dapat diterima masyarakat tanpa gangguan.

"Kami masih terus melakukan monitoring untuk memastikan distribusi B50 sampai ke lembaga penyalur dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat berjalan lancar," katanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index