LIPUTANFINANSIAL.COM — Sentimen negatif berasal dari eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Kondisi itu membuat ekspektasi pengetatan moneter oleh bank sentral utama kembali menguat, sehingga investor cenderung menarik diri dari aset berisiko seperti ekuitas.
Di pasar domestik, pemicu tambahan datang dari data inflasi yang kembali merangkak naik. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar dan periode sebelumnya yang tercatat 2,28 persen pada Juli.
Mengapa Minyak Menjadi Biang Kerok Pelemahan IHSG?
Lonjakan komoditas energi berdampak ganda pada ekonomi. Di satu sisi, biaya operasional korporasi meningkat, menekan margin keuntungan. Di sisi lain, inflasi yang lebih tinggi mempersempit ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Tekanan tersebut tampak jelas pada indeks saham unggulan LQ45 yang terkoreksi lebih dalam, ditutup melemah 0,39 persen ke level 651,87. Padahal, IHSG sempat dibuka di zona hijau sebelum berbalik melemah dan bertahan negatif hingga penutupan sesi kedua.
"Bursa Asia didominasi pelemahan mengikuti penurunan Wall Street, AS, setelah lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demusalias, dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (2/9).
Saham dan Sektor yang Paling Terdampak di Bursa Efek Indonesia
Data perdagangan menunjukkan mayoritas sektor menekan indeks dengan sektor barang baku menjadi yang paling terpukul. Kekhawatiran atas perlambatan ekonomi global akibat biaya energi tinggi membuat saham komoditas kurang diminati.
- Sektor teknologi menjadi penyeimbang utama dengan menguat signifikan 3,47 persen.
- Sektor keuangan dan barang konsumen non-primer masing-masing naik tipis 0,49 persen dan 0,44 persen.
- Pelemahan terdalam terjadi pada sektor barang baku yang anjlok 1,21 persen.
- Sektor industri dan infrastruktur masing-masing terkoreksi 1,06 persen dan 0,78 persen.
Secara keseluruhan, sebanyak 296 saham tercatat menguat, 338 saham melemah, sementara 329 saham stagnan. Aktivitas perdagangan melibatkan 2,43 juta kali transaksi dengan volume 63,13 miliar lembar saham senilai Rp 16,80 triliun.
Inflasi, Proyeksi Rupiah, dan Momentum Data Positif Ekonomi
Kenaikan inflasi inti yang menyentuh level tertinggi sejak Maret 2023 menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap daya beli masyarakat. Tekanan harga pangan akibat fenomena El Nino menjadi penyebab utama kenaikan tersebut.
Di sisi kebijakan, Gubernur Bank Indonesia yang baru ditunjuk, Destry Damayanti, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2027 berada di kisaran 5,2 persen hingga 6 persen. Namun ia memperkirakan nilai tukar rupiah melemah ke rentang Rp 17.300 hingga Rp 17.800 per dolar AS pada tahun depan.
Hemat kata, pelemahan indeks hari ini tidak sedalam yang dikhawatirkan. Penopang utamanya adalah data neraca perdagangan Juli 2026 yang dirilis di atas ekspektasi berkat kinerja ekspor yang lebih baik dari perkiraan, sehingga memberikan sedikit ruang bagi penguatan nilai tukar dan stabilitas pasar keuangan.