RDG BI Agustus: Bunga Acuan AS Diprediksi Naik pada Kuartal IV/2026

Rabu, 19 Agustus 2026 | 00:53:31 WIB
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti [FOTO: NET].

JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memperkirakan bakal terjadi pengetatan moneter susulan di kancah global, seiring estimasi bahwa bank sentral Amerika Serikat atau The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate/FFR) pada kuartal IV/2026. Saat ini, FFR bertahan di kisaran 3,50%-3,75%.

Penjabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa proyeksi ini bermula dari dinamika ekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian tinggi. Laju pemulihan ekonomi dunia dinilai belum solid, berjalan seiring dengan tingginya eskalasi ketidakpastian di pasar keuangan.

Destry menerangkan, intensitas konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut telah memicu kenaikan harga minyak mentah serta beragam komoditas utama dunia.

"Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 belum kuat, yang diperkirakan sekitar 3%. Sementara itu tekanan inflasi global tetap tinggi sekitar 4,5% pada 2026 sehingga mendorong kebijakan moneter global menjadi lebih ketat," ungkapnya dalam pengumuman RDG BI Agustus 2026, Rabu (19/8/2026).

Imbas tingginya tekanan inflasi tersebut, garis kebijakan moneter global, termasuk The Fed, diprediksi bakal bersikap lebih hawkish. BI memperkirakan penyesuaian kenaikan FFR akan berlangsung pada triwulan akhir tahun ini.

Beriringan dengan ekspektasi penaikan suku bunga The Fed, BI turut mengantisipasi lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury. Peningkatan yield obligasi pemerintah AS tersebut diperkirakan bertahan di level tinggi, didorong oleh spekulasi pasar atas arah kebijakan The Fed dan melebarnya defisit anggaran AS.

Destry menuturkan, perpaduan suku bunga global yang tinggi serta tingginya ketidakpastian pasar finansial memicu para investor menarik dananya dari aset portofolio di negara-negara berkembang (emerging markets).

Dinamika tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang negara berkembang, tak terkecuali rupiah.

Mengantisipasi tantangan makroekonomi global ini, Destry menggarisbawahi krusialnya penguatan sinergi kebijakan di lingkup domestik.

"Perkembangan ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna menguatkan ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik," pungkasnya.

Sementara itu, bank sentral menetapkan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada posisi 5,75% melalui hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Agustus 2026 yang diumumkan pada Rabu (19/8/2026).

Terkini