Rupiah Tertekan Sentimen Domestik, Dibuka Melemah ke Rp17.763 per Dolar AS

Kamis, 27 Agustus 2026 | 11:06:00 WIB

LIPUTANFINANSIAL.COM — Tekanan jual terhadap rupiah berlanjut pada sesi awal perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda melanjutkan pelemahannya hingga 0,36% ke posisi Rp17.775 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB. Kondisi ini kontras dengan mayoritas mata uang Asia lainnya yang justru menguat, didorong optimisme pasar terhadap kesepakatan gencatan senjata di Selat Hormuz.

Dua Sentimen Domestik yang Membebani Pergerakan Rupiah

Pelaku pasar sedang mencermati dua isu utama dari dalam negeri. Pertama, rencana aksi demonstrasi besar-besaran yang menuntut percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset. Aksi ini berpotensi memicu gejolak sosial-politik jangka pendek yang membuat investor cenderung mengurangi eksposur risiko di pasar keuangan Indonesia.

Kedua, pasar menanti sinyal kebijakan moneter dari Gubernur BI yang baru. Transisi kepemimpinan di bank sentral kerap memunculkan spekulasi mengenai arah kebijakan suku bunga dan intervensi pasar, sehingga membuat pergerakan rupiah menjadi lebih volatil dari biasanya.

Kontras dengan Penguatan Mata Uang Regional

Pelemahan rupiah terjadi di saat indeks dolar AS menunjukkan pergerakan yang bervariasi terhadap sejumlah mata uang utama Asia. Penguatan di kawasan tersebut terutama ditopang oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah adanya titik terang negosiasi di Selat Hormuz. Kondisi ini membuat aliran modal asing lebih tertarik masuk ke pasar negara berkembang yang dinilai lebih stabil, namun belum mampu menahan laju pelemahan rupiah.

Para analis menilai bahwa faktor eksternal yang positif belum cukup kuat untuk melawan tekanan eksternal lain, yaitu permintaan dolar AS yang tetap tinggi dari korporasi domestik untuk pembayaran utang dan impor.

Koreksi Terbatas atau Pelemahan Berkelanjutan?

Level psikologis Rp17.800 per dolar AS menjadi resistance terdekat yang perlu diwaspadai. Jika sentimen negatif domestik masih mendominasi, bukan tidak mungkin rupiah akan menguji level tersebut dalam beberapa sesi ke depan. Sebaliknya, jika aksi demonstrasi berjalan kondusif dan komunikasi kebijakan BI baru berlangsung lancar, ruang penguatan rupiah tetap terbuka seiring membaiknya sentimen risiko global.

Investor disarankan untuk mencermati perkembangan politik dalam negeri serta pernyataan resmi pejabat BI mengenai stance kebijakan moneter ke depan. Pergerakan nilai tukar yang fluktuatif ini juga berdampak langsung pada emiten yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS serta perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor.

Terkini