Inflasi Beras Turun, Bapanas Gelontorkan 1,9 Juta Ton Cadangan Beras

Rabu, 02 September 2026 | 19:28:32 WIB
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyampaikan tingkat inflasi beras pada Agustus 2026 melandai seiring dengan langkah pemerintah menyalurkan cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai 1,9 juta ton demi menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan bagi masyarakat.

Pergerakan laju inflasi khusus beras hingga Agustus tahun 2026 terus mengalami penstabilan, baik dalam skala tahunan maupun bulanan. Adapun inflasi khusus beras dalam hitungan tahunan berada pada angka 2,77 persen setelah pada bulan sebelumnya bertengger di posisi 3,10 persen.

"Level ini membaik jika dibandingkan pada inflasi beras Agustus tahun 2025 yang menjadi titik puncak inflasi beras saat itu di angka 4,24 persen," kata Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman terkonfirmasi di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Sementara itu, tingkat inflasi beras bulanan hingga Agustus tahun 2026 ikut merosot dengan berada di posisi 0,42 persen setelah bulan lalu menyentuh 0,49 persen. Laju inflasi beras secara bulanan sepanjang tahun 2026 terpantau terkendali lantaran belum pernah menembus angka 1 persen.

"Stok beras kami banyak. Harga harus baik. Mulai dari petani sampai konsumen. Sekarang banyak beras, hulu sudah bagus, hilir juga harus bagus. Tidak boleh ada anomali harga beras," tegas Amran.

Pemerintah lewat Bapanas bersama Perum Bulog mencatat telah menyalurkan pasokan cadangan beras pemerintah (CBP) berkisar 1,9 juta ton. Penyaluran tersebut digulirkan semenjak awal tahun 2026 sebagai bentuk intervensi harga di pasar.

Distribusi itu mencakup realisasi penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) periode Januari-Februari sebesar 221,05 ribu ton. Selanjutnya realisasi SPHP beras rentang Maret hingga Agustus yang menembus 731,23 ribu ton.

Tersedia pula realisasi program bantuan pangan gelombang pertama sebanyak 662,86 ribu ton serta bantuan pangan gelombang kedua yang sudah mulai bergulir sejumlah 207,47 ribu ton. Terakhir, penyaluran bantuan tanggap bencana dan situasi darurat sebanyak 12,11 ribu ton serta alokasi anggaran khusus sebesar 56,14 ribu ton.

Di samping itu, pihak pemerintah turut memperketat pengawasan komoditas beras yang dijual di pasaran. Semenjak akhir Juli, Bapanas telah membongkar indikasi ketidaksesuaian pada beberapa varian produk beras fortifikasi.

Pengawasan yang masih terus berjalan hingga kini menyasar 178 sampel beras fortifikasi pada 11 provinsi dan mendapati pelbagai temuan masalah terkait kemasan label, mutu, hingga kadar gizi produk.

Hasil pengujian laboratorium memperlihatkan 93 persen sampel tak memenuhi standar klaim beras fortifikasi maupun beras yang diperkaya. Ditemukan pula banderol harga beras fortifikasi yang melonjak tinggi jauh melampaui HET beras premium. Bahkan dijumpai produk yang hanya memuat 2 jenis kandungan zat gizi dari yang tertera pada label kemasan.

Selanjutnya pemerintah berhitung mulai awal September 2026 turut mengoperasikan pengawasan harga dan kualitas beras lewat Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Harga dan Mutu Beras yang melibatkan gabungan instansi seperti Bapanas, Satgas Pangan Polri, Perum Bulog, hingga pemerintah daerah.

Dalam pemantauan harga Bapanas per 31 Agustus 2026, rata-rata harga beras medium secara nasional berada di tingkat Rp13.626 per kilogram (kg). Banderol tersebut terkoreksi 3,18 persen ketimbang rentang waktu yang sama pada tahun sebelumnya yang berada di angka Rp14.073 per kg.

Sementara itu, rata-rata harga beras premium secara nasional berada pada posisi Rp16.084 per kg dan telah melandai 0,48 persen jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp16.162 per kg.

Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menerangkan bahwasanya inflasi beras pada Agustus dipengaruhi oleh masa peralihan pascapuncak panen raya. Kendati demikian, perkiraan angka produksi dipastikan aman.

"Untuk yang kondisi Agustus tahun 2026, beras ini mencatat inflasi bulanannya itu 0,42 persen dengan andilnya itu 0,02 persen. Secara historis untuk bulan Agustus mulai memasuki fase transisi setelah melewati puncak panen raya," kata Ateng di Jakarta, Selasa (1/9).

Terkini