JFX Siap Jadi Fondasi Bursa Mineral 2027, Ambisi RI Jadi Penentu Harga Timah

JFX Siap Jadi Fondasi Bursa Mineral 2027, Ambisi RI Jadi Penentu Harga Timah

LIPUTANFINANSIAL.COM — Direktur Utama JFX Yazid Kanca Surya menilai momentum Indonesia untuk bertransformasi menjadi price setter atau penentu harga komoditas sedang terbuka lebar. Kekuatan Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar berbagai komoditas dunia, termasuk timah, menjadi modal utama dalam negosiasi harga di pasar internasional.

"Sekarang adalah momentum yang tepat bagi Indonesia untuk menjadi price setter. Pembentukan harga suatu komoditas dapat datang dari kekuatan sebagai produsen terbesar ataupun pembeli terbesar," ujar Kanca dalam keterangan tertulis, Rabu (26/8/2026).

Pasar Timah JFX Jadi Rujukan Pembeli Global

Klaim tersebut bukan tanpa bukti. Sejak 2019 hingga Agustus 2025, volume perdagangan timah melalui JFX telah menembus 300 ribu ton dengan nilai transaksi lebih dari US$ 8 miliar. Pada 2024 saja, lebih dari 95% transaksi timah nasional tercatat melalui bursa tersebut.

Yang lebih penting, kepercayaan datang dari pembeli internasional. JFX mencatat pembeli dari China, Jepang, Singapura, hingga Eropa secara sukarela melakukan transaksi di Indonesia, tanpa ada kewajiban regulasi yang memaksa mereka. Kanca menegaskan, preferensi ini menjadi indikator bahwa pasar yang dibangun Indonesia sudah efisien dan dipercaya.

"Pembeli punya pilihan. Mereka tidak diwajibkan membeli melalui JFX, tetapi tetap datang dan bertransaksi di sini. Kalau pasar kita tidak efisien atau tidak dipercaya, tentu mereka bisa membeli di tempat lain," tuturnya.

Harga JFX Mulai Diperhitungkan di Samping LME

Konsekuensinya, harga yang terbentuk di JFX kini mulai diperhitungkan pelaku pasar global. Para pembeli timah Indonesia tidak lagi hanya merujuk pada harga di London Metal Exchange (LME), melainkan juga memantau pergerakan harga di bursa dalam negeri.

"Pada prinsipnya kita sudah menjadi salah satu price reference. Bobotnya mungkin belum sebesar bursa global lainnya, tetapi harga JFX sudah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan ketika orang melakukan transaksi timah," kata Kanca.

Kepercayaan ini tidak datang instan. JFX mengingatkan bahwa bursa yang berhasil tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui proses panjang yang menekankan kepastian bagi penjual dan pembeli.

"Yang paling penting adalah bagaimana mekanisme yang dibangun dapat memberikan kenyamanan bagi penjual tanpa mengganggu proses perdagangan mereka, sekaligus memberikan kepastian bagi pembeli yang menempatkan dananya," jelas Kanca.

Modal Infrastruktur dan Tantangan Karakteristik Komoditas

JFX menegaskan Indonesia tidak memulai agenda pembangunan BMKS dari nol. Sistem perdagangan, mekanisme kliring, pengawasan transaksi, hingga jaringan anggota bursa yang telah terbangun selama 27 tahun bisa langsung dimanfaatkan untuk pengembangan bursa mineral.

Sejak didirikan pada 1999, JFX telah berevolusi dari sekadar bursa kontrak berjangka Olein dan Kopi Robusta, menjadi pengelola Sistem Perdagangan Alternatif, pasar fisik timah dan emas digital, hingga fasilitas akses nasabah ke bursa luar negeri.

Kendati demikian, JFX mengakui setiap komoditas memiliki tantangan yang berbeda. Mekanisme yang sukses untuk timah belum tentu bisa diterapkan mentah-mentah untuk komoditas lain seperti nikel atau bauksit.

"Setiap komoditas punya karakteristik yang berbeda. Mekanisme yang berhasil untuk satu komoditas belum tentu bisa diterapkan dengan cara yang sama pada komoditas lainnya. Kita harus memahami apa yang dibutuhkan penjual dan pembeli, kemudian membangun mekanisme yang sesuai dengan karakter pasar tersebut," pungkas Kanca.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index