Rupiah Tertekan ke Rp17.750, Pasar Menanti Bos Baru BI

Rupiah Tertekan ke Rp17.750, Pasar Menanti Bos Baru BI

LIPUTANFINANSIAL.COM — Tekanan terhadap rupiah kembali terasa pada pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda melemah ke level Rp17.750/US$, setelah pada Rabu kemarin sempat ditutup menguat 0,06% di posisi Rp17.695/US$.

Pelemahan ini terjadi saat indeks dolar AS (DXY) justru terkoreksi tipis 0,05% ke level 99,119. Meski begitu, greenback masih bertahan di sekitar level tertingginya dalam sepekan terakhir.

Inflasi AS Masih Jadi Hantu Rupiah

Koreksi dolar yang minim tak banyak membantu rupiah. Penyebabnya, data inflasi Amerika Serikat yang dirilis kemarin masih lebih tinggi dari perkiraan pasar. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS tercatat naik 3,7% secara tahunan pada Juli, sedikit melampaui konsensus ekonom di angka 3,6%.

Angka inflasi yang masih panas ini menjaga peluang kenaikan suku bunga The Fed tetap terbuka. Imbasnya, ruang penguatan mata uang negara berkembang seperti rupiah menjadi semakin sempit karena investor cenderung memilih aset berbasis dolar AS.

Pergantian Pimpinan BI Jadi Sorotan

Dari dalam negeri, pelaku pasar tengah fokus menunggu hasil uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Gubernur BI serta jajaran Dewan Gubernur. Komisi XI DPR RI dijadwalkan mengumumkan hasilnya pada sore ini.

Calon Gubernur BI Destry Damayanti dan calon Deputi Gubernur Senior Aida S telah menjalani uji kelayakan di hadapan Komisi XI DPR pada Rabu kemarin. Keduanya merupakan calon tunggal yang diajukan Presiden Prabowo Subianto. Sementara itu, dua calon Deputi Gubernur BI lainnya, Solikin M. Juhro dan M. Anwar Bashori, dijadwalkan menjalani proses yang sama hari ini.

Setelah pengumuman hasil seleksi, penetapan resmi akan dilakukan dalam rapat paripurna DPR pada Selasa (1/9/2026).

Prioritas BI: Stabilitas Rupiah

Komposisi pimpinan baru BI menjadi perhatian serius pasar karena akan menentukan arah kebijakan moneter ke depan, termasuk strategi menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem pembayaran.

Dalam uji kelayakan kemarin, Destry menegaskan komitmennya untuk tetap menggunakan BI Rate sebagai instrumen utama menjaga stabilitas rupiah. "BI Rate akan diarahkan secara pre-emptive dan forward looking untuk menjaga stabilitas rupiah," ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa stabilisasi nilai tukar akan diperkuat melalui intervensi terukur dan operasi moneter yang pro-market. "Stabilisasi nilai tukar rupiah akan terus diperkuat melalui smart intervention. Operasi moneter pro-market akan dioptimalkan agar transmisi kebijakan semakin efektif dan likuiditas tetap memadai bagi pasar uang, perbankan, dan sektor riil," jelasnya.

Pernyataan ini memberi sinyal bahwa BI tidak akan ragu mengintervensi pasar jika rupiah tertekan, namun tetap menjaga kecukupan likuiditas untuk mendukung aktivitas ekonomi. Bagi pelaku pasar, kepastian arah kebijakan ini menjadi kunci utama di tengah gejolak nilai tukar yang masih tinggi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index