Rupiah Ditutup Rp17.696 per USD, Tertekan Suku Bunga The Fed dan Isu Reshuffle Menkeu

Rabu, 16 September 2026 | 22:49:00 WIB

LIPUTANFINANSIAL.COM — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah ke Rp17.696 per USD pada perdagangan Rabu (16/9/2026), turun tipis 2 poin dari posisi sebelumnya. Pelemahan dipicu kombinasi sentimen eksternal berupa ketegangan energi Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta faktor domestik terkait tantangan fiskal dan utang luar negeri. Pengamat memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah pada perdagangan Kamis.

Pelemahan terjadi di tengah akumulasi ketidakpastian global dan dinamika internal yang menekan selera risiko investor. Tekanan itu diperkirakan masih membayangi pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis besok.

Proyeksi Kamis: Rupiah Berpotensi Melemah di Rp17.690–Rp17.750

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif pada perdagangan besok dengan kecenderungan ditutup melemah.

"Rupiah hari ini ditutup melemah tipis 2 poin di level Rp17.696 per dolar AS, dan untuk perdagangan besok mata uang rupiah diprediksi bergerak fluktuatif namun tetap ditutup melemah di rentang Rp17.690 hingga Rp17.750," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Rabu (16/9).

Ancaman Pasokan Energi dari Laut Merah

Dari sisi eksternal, lonjakan ketegangan geopolitik kian mengancam stabilitas pasokan energi dunia. Awal bulan ini, kelompok Houthi menguasai posisi strategis di sepanjang Laut Merah.

Penguasaan itu memicu rentetan serangan terhadap kapal tanker di Selat Bab el-Mandeb. Gangguan jalur pelayaran tersebut menambah tekanan pada pasar energi global dan memperkuat dolar AS sebagai aset lindung nilai.

Ekspektasi Suku Bunga The Fed dan Faktor Domestik

Selain konflik Timur Tengah, pasar mencermati ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Kebijakan moneter Amerika Serikat yang ketat membuat imbal hasil aset dolar AS lebih menarik, sehingga arus modal cenderung keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, tantangan fiskal dan kenaikan utang luar negeri turut menahan penguatan rupiah. Kombinasi dua faktor ini membuat investor asing lebih berhati-hati menempatkan dana di pasar keuangan domestik.

Bagi pelaku usaha yang memiliki utang dalam dolar AS, pelemahan rupiah menambah beban biaya. Importir bahan baku juga menghadapi kenaikan harga pokok, sementara eksportir justru mendapat keuntungan dari selisih kurs.

Pergerakan rupiah pada Kamis akan bergantung pada perkembangan geopolitik dan sinyal kebijakan The Fed. Selama ketidakpastian global belum mereda, tekanan terhadap mata uang Garuda diperkirakan masih berlanjut.

Terkini