JAKARTA — Pembukaan suspensi perdagangan saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) semakin mendekati kenyataan setelah perseroan berhasil mendapatkan lampu hijau dari Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) terkait rencana restrukturisasi utang.
Berdasarkan forum RUPO yang digelar perseroan pada Kamis (3/9/2026), para investor obligasi sepakat mengesahkan seluruh usulan restrukturisasi atas Obligasi III Tahap IV Tahun 2019, yang mencakup opsi perpanjangan tenor pembayaran.
Langkah krusial ini membuka peluang besar untuk memulihkan status perdagangan saham perseroan di lantai bursa. Sebagai catatan, saham emiten konstruksi pelat merah tersebut telah mengalami penghentian sementara atau suspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 8 Mei 2023.
Direktur Keuangan Waskita Karya, Wiwi Suprihatno, menegaskan bahwa perseroan memiliki komitmen penuh dalam menuntaskan seluruh kewajiban finansial serta menjaga keberlanjutan pemulihan struktur neraca yang berpedoman pada transparansi dan tata kelola perusahaan yang baik.
“Kami akan terus konsisten memenuhi kewajiban yang tersisa,” ujar Wiwi melalui keterangan tertulis pada Jumat (4/9/2026).
Persetujuan dalam RUPO itu sekaligus menjadi penyelamat bagi WSKT dari ancaman pencatatan saham secara paksa atau forced delisting. Menginjak September 2026, masa suspensi saham WSKT telah berlangsung lebih dari tiga tahun, melampaui batas toleransi 24 bulan yang diatur dalam Peraturan Bursa Nomor I-N.
Sementara itu, dari ranah pembenahan liabilitas, manajemen Waskita sebelumnya telah meneken Master Restructuring Agreement (MRA) bersama 21 perbankan. Terhitung sejak akhir 2023 hingga paruh pertama 2026, total beban utang perusahaan berhasil dipangkas sebesar 20,8%, yakni dari posisi semula Rp84 triliun menjadi Rp66,5 triliun.
Tidak hanya itu, akumulasi utang vendor yang telah jatuh tempo (past due) juga ditekan secara drastis hingga 97,1%, dari angka Rp2,13 triliun pada 2022 menjadi hanya Rp48 miliar sampai paruh pertama 2026, ditambah dengan pelunasan penuh kewajiban pajak masa lalu.
Seiring dengan pemulihan kondisi neraca keuangan, kinerja operasional perseroan menunjukkan tren kebangkitan yang positif. Sepanjang semester I/2026, WSKT membukukan pendapatan usaha sebesar Rp4,92 triliun, yang mencatatkan lonjakan 58,49% secara tahunan (year-on-year).
Capaian gemilang ini ditopang oleh pengerjaan proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) serta jaringan irigasi yang digarap bersama Kementerian Pekerjaan Umum.
Sampai dengan Juni 2026, WSKT juga berhasil mengantongi perolehan nilai kontrak baru senilai Rp5,1 triliun, di mana sektor konektivitas menyumbang porsi terbesar mencapai 45,6%, disusul oleh proyek infrastruktur air sebesar 21,7%.
Lebih lanjut, Wiwi memaparkan bahwa perseroan kini mengarahkan fokus bisnisnya murni sebagai kontraktor utama dengan menerapkan prinsip kehati-hatian serta selektivitas tinggi terhadap proyek yang mengandalkan skema pembayaran bulanan (monthly payment) serta menyertakan uang muka.
“Kami selektif dalam memilih proyek yang akan dikerjakan, sebagai bagian dari manajemen risiko. Waskita Karya juga menghindari proyek turnkey maupun investasi, serta berfokus pada proyek dengan skema monthly payment dan memiliki uang muka,” pungkas Wiwi.