LIPUTANFINANSIAL.COM — Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,2% dan S&P 500 kehilangan seluruh kenaikannya setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75%-4%. Kenaikan pertama dalam tiga tahun itu memicu ekspektasi pasar bahwa The Fed masih akan menaikkan bunga sekali lagi tahun ini. Imbal hasil obligasi Treasury dua tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2024, sementara dolar AS menguat.
Wall Street terperosok ke level terendah sejak Juli. Sebagian besar sektor utama dalam indeks S&P 500 melemah, menghapus seluruh penguatan yang sempat terbentuk di sesi sebelumnya.
Dow Jones dan S&P 500 Kompak Melemah
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,2% pada perdagangan setelah pengumuman FOMC. Pelemahan merata terjadi di hampir seluruh sektor, menandakan investor menyesuaikan posisi terhadap arah kebijakan moneter yang lebih ketat.
Obligasi Treasury AS bertenaga pendek mencatat kinerja paling buruk. Imbal hasil obligasi dua tahun menembus level tertinggi sejak 2024, mencerminkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.
Dolar AS turut menguat terhadap mata uang utama lainnya. Pasar uang kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sekitar 50%.
Dot Plot Sinyalkan Satu Kenaikan Lagi Tahun Ini
Proyeksi dot plot yang dirilis bank sentral AS menunjukkan kemungkinan satu kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini. Sinyal tersebut menjadi pemicu utama aksi jual di pasar saham dan obligasi.
Gubernur The Fed Kevin Warsh menyatakan pihaknya sengaja mengurangi sebagian stimulus kebijakan. Menurut dia, langkah itu diperlukan agar kondisi keuangan dan kredit lebih selaras dengan tujuan akhir bank sentral.
"Kami mengurangi sebagian stimulus kebijakan agar kondisi keuangan dan kredit lebih selaras dengan tujuan akhir kami," kata Warsh dalam konferensi pers.
"Tindakan hari ini mulai menunjukkan bahwa kami serius dalam hal ini, dan kami akan memenuhi tujuan stabilitas harga," ujarnya menambahkan.
Tekanan Bagi Pasar Emerging Market, Termasuk Indonesia
Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury biasanya berdampak ke pasar negara berkembang. Investor cenderung memindahkan dana ke aset berdenominasi dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Bagi pelaku pasar Indonesia, kombinasi dolar kuat dan suku bunga AS yang tinggi berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Tekanan ini juga bisa mempersempit ruang gerak Bank Indonesia dalam menentukan kebijakan suku bunga acuan.
Pasar uang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sekitar 50%. Angka itu menjadi acuan investor untuk mengukur seberapa agresif The Fed akan mengetatkan kebijakan hingga akhir tahun.
Apa yang Dipantau Investor Selanjutnya
Pelaku pasar akan mencermati data inflasi dan tenaga kerja AS dalam beberapa pekan ke depan. Kedua indikator itu menjadi penentu apakah The Fed benar-benar menaikkan suku bunga sekali lagi sesuai sinyal dot plot.
Jika data inflasi tetap tinggi, tekanan jual di pasar saham global berpotensi berlanjut. Sebaliknya, jika inflasi melandai, ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan bisa mengendur dan memberi ruang pemulihan bagi indeks saham.