Rupiah Melemah 0,38% ke Rp17.763 per Dolar AS pada Kamis Pagi

Rupiah Melemah 0,38% ke Rp17.763 per Dolar AS pada Kamis Pagi

LIPUTANFINANSIAL.COM — Rupiah spot melemah 0,38% ke level Rp17.763 per dolar AS pada perdagangan Kamis (17/9/2026) pagi, dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp17.696. Tekanan datang dari sentimen dalam negeri pasca pergantian Menteri Keuangan, seiring mayoritas mata uang Asia juga tertekan terhadap dolar AS.

Melemahnya rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini tercatat pukul 09.09 WIB. Posisi Rp17.763 per dolar AS itu melanjutkan tekanan yang sudah berlangsung sejak penutupan hari sebelumnya.

Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Sebagian besar mata uang Asia kompak melemah terhadap dolar AS pada sesi yang sama.

Ringgit Malaysia Pimpin Pelemahan Asia

Ringgit Malaysia mencatat pelemahan terdalam di kawasan pagi ini, yakni 0,56%. Won Korea Selatan menyusul dengan penurunan 0,42%.

Rupiah berada di urutan ketiga dengan pelemahan 0,38%, disusul dolar Taiwan yang turun 0,26%. Baht Thailand melemah 0,14% dan peso Filipina turun 0,13%.

Yuan China menjadi mata uang dengan pelemahan paling tipis, hanya 0,04% terhadap dolar AS.

Sentimen Dalam Negeri Jadi Pemicu

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah lebih dipicu kondisi sentimen dalam negeri. Pasar masih mencermati perkembangan setelah pergantian menteri keuangan.

"Menteri Keuangan baru Suahasil Nazara menghadapi tantangan untuk menjaga dua kepentingan yang kerap berhadapan dalam kebijakan fiskal, guna mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan disiplin dan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," kata Ibrahim kepada wartawan.

Menurut Ibrahim, fokus yang lebih penting adalah menjaga kapasitas fiskal untuk mendorong pertumbuhan. Penggunaan instrumen fiskal juga harus berjalan dengan aturan dan koordinasi yang jelas.

"Kredibilitas fiskal memiliki nilai bukan semata karena neraca pemerintah terlihat sehat, melainkan karena kesehatan tersebut menciptakan ruang bagi pemerintah untuk bertindak ketika terjadi guncangan ekonomi," ujarnya.

Defisit APBN dan Kecepatan Konsolidasi

Komitmen menahan defisit APBN di bawah tiga persen terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap penting untuk menjaga kepercayaan terhadap fiskal Indonesia. Namun kondisi global yang masih dibayangi mahalnya global duration dan permintaan domestik yang belum sepenuhnya kuat menuntut kehati-hatian dalam menentukan kecepatan konsolidasi.

"Selain itu, tugas Menteri Keuangan baru bukan sekadar menentukan apakah kebijakan fiskal harus lebih ekspansif atau konservatif. Yang lebih penting adalah membangun aturan, urutan kebijakan, dan koordinasi antar lembaga yang memungkinkan fiskal tetap menjadi mesin pendukung pertumbuhan tanpa mengorbankan kredibilitas," jelas Ibrahim.

Bagi pelaku pasar valas, pergerakan rupiah hari ini akan bergantung pada bagaimana pasar mencerna arah kebijakan fiskal Suahasil Nazara dalam beberapa pekan ke depan. Tekanan regional yang masih berlanjut menambah ruang bagi rupiah untuk tetap fluktuatif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index