The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah Melemah ke Rp 17.730 per Dolar AS

The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah Melemah ke Rp 17.730 per Dolar AS

LIPUTANFINANSIAL.COM — Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) resmi menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%, memicu delapan dari sepuluh mata uang Asia melemah terhadap dolar AS pada Kamis (17/9/2026). Rupiah turun 0,31% ke Rp 17.730/US$, sedangkan ringgit Malaysia melemah dengan persentase sama ke MYR 4,095/US$.

Jakarta, CNBC Indonesia — Keputusan The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak Juli 2023 mengguncang pasar valuta Asia. Indeks dolar AS (DXY) langsung menguat 0,07% ke 100,324 pagi ini, melanjutkan kenaikan 0,63% pada sesi sebelumnya.

Delapan dari sepuluh mata uang yang dipantau Refinitiv melemah terhadap dolar AS per pukul 09.19 WIB. Hanya dolar Singapura dan yen Jepang yang bertahan di zona hijau.

Baht Thailand Paling Tertekan

Baht Thailand mencatat pelemahan terdalam pagi ini, turun 0,39% ke THB 33,41/US$. Rupiah dan ringgit Malaysia menyusul dengan penurunan masing-masing 0,31%.

Won Korea Selatan juga tertekan 0,29% ke KRW 1.380,8/US$. Dong Vietnam melemah 0,10% ke VND 26.024/US$, disusul dolar Taiwan yang turun 0,09% ke TWD 31,86/US$.

Yuan China terkoreksi 0,06% ke CNY 6,7103/US$, sementara peso Filipina melemah tipis 0,01% ke PHP 62,728/US$.

Singapura dan Jepang Bertahan

Dolar Singapura menguat 0,09% ke SGD 1,277/US$. Yen Jepang juga naik 0,08% ke JPY 156,14/US$, menjadikan keduanya satu-satunya mata uang Asia yang menguat pagi ini.

Alasan The Fed Ambil Keputusan Tegas

The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00% setelah rapat dua hari FOMC. Keputusan diambil bulat oleh 12 anggota FOMC pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

"Inflasi masih berada di level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2% secara lebih cepat," tulis The Fed dalam rilis resminya.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan stabilitas harga tetap menjadi fokus utama. Ia menyebut inflasi masih terlalu tinggi dan bertahan pada level tersebut terlalu lama.

"Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi," ujar Warsh, dikutip dari CNBC International.

Peluang Kenaikan Lanjutan

Dot plot The Fed menunjukkan 16 dari 18 pejabat memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan suku bunga lagi sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun ini. Proyeksi terbaru membuka peluang suku bunga bergerak ke kisaran 4,00%-4,25% pada akhir tahun.

Karl Schamotta, chief market strategist Corpay, menilai kenaikan yang tegas dan didukung seluruh anggota FOMC dapat memulihkan keyakinan pasar terhadap komitmen The Fed memerangi inflasi.

"Kenaikan tegas hari ini, yang didukung seluruh anggota FOMC dan disertai peningkatan proyeksi dalam dot plot, seharusnya membantu memulihkan kepercayaan terhadap komitmen The Fed dalam melawan inflasi dan menghapus hambatan besar yang selama ini menahan dolar," ujar Schamotta, dikutip dari Reuters.

David Krakauer, vice president of portfolio management Mercer Advisors, menilai keputusan bulat FOMC menjadi sinyal kuat bahwa The Fed di bawah Warsh siap bertindak menahan inflasi.

"Keputusan bulat hari ini adalah sinyal paling jelas bahwa The Fed di bawah Warsh bersatu, berbasis data, dan bersedia bertindak," ujar Krakauer, dikutip dari Reuters.

Bagi investor Indonesia, tekanan lanjutan dolar AS berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan memicu arus modal keluar dari pasar obligasi maupun saham. Pergerakan DXY yang bertahan di atas level 100 menjadi sinyal yang perlu dicermati hingga keputusan suku bunga BI berikutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index