Kemnaker Beri Pelatihan Gratis Pelaku Usaha Kopi di Bandung Barat

Jumat, 04 September 2026 | 04:16:32 WIB
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli. (Foto: NET)

JAKARTA — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memberikan fasilitas pelatihan tanpa biaya bagi para pelaku bisnis kopi yang berada di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Langkah ini merupakan bentuk dorongan guna menaikkan kapasitas usaha serta memperkokoh potensi komoditas kopi lokal agar mampu merambah pasar global.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli ketika berada di Bandung Barat pada hari Jumat mengutarakan bahwa pihaknya siap menyediakan program bimbingan bagi sekitar 50 sampai 100 pengusaha kopi. Materi yang diberikan mencakup berbagai tahapan mulai dari tahap pembibitan, tata kelola lahan, masa panen, hingga proses pengolahannya.

“Kami bisa memberikan pelatihan gratis untuk 50 sampai 100 orang, mulai dari bibit, bagaimana mengelola lahannya, panen, sampai kemudian pengolahannya,” katanya.

Yassierli mengaku merasa tertarik dalam memfasilitasi sektor industri kopi di Bandung Barat setelah mengetahui bahwa komoditas kopi dari kawasan tersebut sukses menembus pasar ekspor.

Ia memandang bahwa pencapaian gemilang itu harus diimbangi melalui penguatan kemampuan para pelaku usaha agar kuantitas produksi serta mutu kopi sanggup memenuhi tingginya peluang permintaan di pasaran yang lebih luas.

“Saya dengar Bandung Barat ini sudah ekspor kopi, bahkan kalau tidak salah sudah sampai empat ton. Ini luar biasa, tinggal bagaimana kami tingkatkan lagi kapasitasnya,” ujarnya.

Ia turut menaruh harapan agar fasilitas bimbingan tersebut mampu memperkuat kecakapan pengusaha kopi Bandung Barat dalam mengatur bidang produksi serta pengolahan. Dengan demikian, peluang besar di pasaran domestik maupun mancanegara bisa dimanfaatkan secara jauh lebih maksimal.

Sebelumnya, produk kopi jenis Arabika Gunung Tangkuban Parahu yang berasal dari wilayah Kecamatan Lembang sukses menembus pasar Arab Saudi. Pengiriman perdana tersebut mencatatkan angka sebanyak empat ton green bean hasil olahan fermentasi nanas yang mendatangkan nilai transaksi sekitar Rp800 juta.

Manajer Tonas Kopi sekaligus figur petani milenial, Dikdik Ramdaniansyah, memaparkan bahwa permintaan awal dari pihak pembeli di Arab Saudi sebetulnya mencapai 25 ton. Kendati demikian, pihaknya baru sanggup memenuhi pengiriman tahap awal sejumlah empat ton akibat adanya keterbatasan dari sisi kapasitas produksi serta ketersediaan bahan baku.

“Awalnya, mereka melakukan pemesanan sebanyak 25 ton. Namun, karena situasi dan kondisi yang kurang memungkinkan, kami baru mampu menyanggupi pengiriman sebanyak 4 ton,” ujarnya.

Pada saat ini, Tonas Kopi tercatat telah menyerap sekitar 50 ton biji kopi dari para petani lokal di Desa Cibodas. Target ke depannya, kapasitas produksi diproyeksikan bakal meningkat hingga dua atau tiga kali lipat dengan kebutuhan pasokan bahan baku melampaui angka 100 ton.

Terkini

Merger ADHI dan PTPP Ditargetkan Rampung Akhir 2026

Jumat, 04 September 2026 | 06:01:32 WIB

Restu RUPO Diraih, Suspensi Saham WSKT Berpeluang Dibuka

Jumat, 04 September 2026 | 06:00:02 WIB

Emiten Prajogo Pangestu Jajaki Pengambilalihan SINI

Jumat, 04 September 2026 | 05:58:31 WIB

PTPP Angkat Bicara Soal Merger ADHI, Skema Belum Final

Jumat, 04 September 2026 | 05:55:02 WIB