JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dihadapkan pada tantangan dalam merumuskan arah kebijakan suku bunga di tengah urgensi memelihara stabilitas perekonomian sekaligus menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional.
Kepala Grup Makroekonomi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Jardine A. Husman menyampaikan, pihak BI perlu memelihara keseimbangan antara aspek stabilitas dan pertumbuhan tatkala mengkalibrasi suku bunga kebijakan.
"Kami memahami bahwa terdapat keseimbangan yang sangat rumit yang harus dijaga, yaitu menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan," ujar Jardine dalam acara Bappenas-ADBI Joint Conference on Asian Countries' Long Term Development Visions, Rabu (9/9/2026).
Menurut penjelasannya, BI menyesuaikan kalibrasi suku bunga kebijakan pada kisaran tingkat yang memadai guna mengawal stabilitas. Meski begitu, bank sentral tidak cuma menggantungkan tumpuan pada instrumen suku bunga dalam mengeksekusi kebijakan moneternya.
BI turut mengoptimalkan bermacam-macam instrumen moneter lainnya demi mengamankan stabilitas nilai tukar rupiah seraya menyuplai ketersediaan likuiditas yang mencukupi bagi roda perekonomian. Salah satu opsi strategisnya yakni lewat optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Instrumen tersebut difungsikan untuk menjaring masuknya aliran portofolio asing sehingga sanggup menopang penstabilan kurs rupiah.
"Kami mengoptimalkan SRBI untuk menarik aliran masuk portofolio asing guna menstabilkan rupiah, sekaligus menyediakan likuiditas yang memadai," jelas Jardine.
Di samping langkah tersebut, BI juga melebarkan cakupan kebijakan insentif demi menjaring arus portofolio asing, mengakselerasi pendalaman pasar uang beserta pasar valuta asing, serta menyuntikkan tambahan likuiditas di pasar domestik.
Jardine menggarisbawahi bahwasanya stabilitas makroekonomi menjadi fondasi krusial dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan berkesinambungan. Menurut pandangannya, di tengah kecamuk ketidakpastian global beserta beraneka risiko geopolitik, Indonesia memerlukan imunitas ketahanan sektor eksternal yang tangguh.
Namun demikian, penguatan lini stabilitas tersebut wajib tetap berjalan selaras dengan agenda menyokong pertumbuhan ekonomi nasional.
"Hal yang paling penting untuk mencapai pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan, serta pertumbuhan yang tinggi, adalah stabilitas," katanya.
Di luar ranah kebijakan moneter, BI mendayagunakan kebijakan makrofinansial dan sistem pembayaran demi menopang geliat aktivitas ekonomi. Kebijakan makroprudensial difokuskan untuk mendorong akselerasi penyaluran kredit perbankan menuju sektor riil dengan senantiasa mengawal stabilitas sistem keuangan.
Sementara itu, arah kebijakan sistem pembayaran ditujukan untuk memperluas penetrasi penerimaan pembayaran digital, memperkokoh tatanan struktur industri sistem pembayaran, serta menggembleng keandalan beserta daya tahan infrastrukturnya.
BI pun secara konsisten mempererat jalinan koordinasi bersama jajaran pemerintah, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam mempertahankan stabilitas sistem keuangan nasional.